Cerita cinta butterfly effect

Butterfly effect
Bagian10
"Kan Aku udah bilang pah, jangan repot repot cari kerja lagi. Kita kan udah punya perusahaan sendiri." ujar manda, jari lentiknya sibuk memoles bedak di pipi.
.
"Itukan punya Almarhum bapak kamu mand, Aku pantang berpangku tangan." balas Angga, duduk di ranjang.
.
"Ya memang sih tapi itu udah jadi milik kita berdua.
Kamu jangan sungkan atau malu."
.
Angga memandang manda, diam sejenak. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
.
"Masa papa mau nganggur terus? Gak malu apa papah tuh?" sambung manda setengah menyindir.
.
Angga menghela nafas pelan, "Ya udah deh aku ikut kalo kamu maksa."
.
"Nah gitu dong, kan enak. Lagian buat apa capek capek kuliah kalo gak di gunain ilmunya.
Kan sayang pah."
.
"Ya Mah. Papa akan berusaha sebaik mungkin."
.
***
.
Gedung tinggi 9 lantai itu terlihat besar di hadapan Angga. Kacanya berwarna hitam mengkilap. Dan temboknya berwarna putih ke abuan.
.
Angga bergeming di parkiran. Dia nervous gugup.
.
"Ayo masuk." ajak Manda.
.
Angga mengangguk. Di lihatnya lagi baju busana yang di kenakannya.
Baju Jas berwarna hitam elegan, di padu dengan dasi berwarna biru gelap. Celana panjang dan sepatu fantovel.
.
"Pantes enggak sih aku pake pakean kaya gini?" Angga minta pendapat istrinya.
.
"Pantes pah, beneran." sahut manda sambil tersenyum. "Udah kaya Dirut tauk." tambahnya.
.
"Ah mamah bisa aja." Angga tersipu malu.
.
"Udah ayo masuk, udah siang nih."
.
Manda menarik lengan Angga untuk mengikutinya.
.
Perusahaaan yang di pegang Manda itu bergerak di bidang jasa periklanan.
Dia menerima klien dari Perusahaan besar, baik itu dari perusahaan Makanan atau minuman maupun barang.
Semisal indofood, Wings, Polytron dan lain lain.
Dan oleh manda dan timnya akan memberikan masukan dan pedapat yang mana nanti. Sekalian Akan di buatkan iklan yang akan jadi semenarik mungkin.
Dan bayarannya sangat besar. Dan jika klien sangat puas lalu produknya Laris Manis di pasaran. Mereka tak segan memberi komisi lebih buat perusahaan manda, sebagai Reward atas jasanya.
Itu yang angga pahami.
.
Angga sendiri ikut bekerja. Dia memilih mulai dari bawah. Dia tak mau langsung memegang jabatan tinggi, menurutnya itu tak pantas.
Dia mau memulainya dari awal dulu.
.
Sebagai karyawan baru, dia sering di suruh suruh oleh senior.
Mulai dari memFotokopi, ngeprint, menggunting kertas, mengelem sampe menjilid kertas.
Intinya sih Angga merapikan proposal tulisan yang baru aja di print dari komputer maupun dari mesin Fotokopi.
Setiap hari seperti itu pekerjaannya.
Dan di sana juga dia mengenal banyak orang.
.
Ada satu orang yang menurut Angga, dia terlalu baik.
.
"Udah dijilidkan proposalnya?" tanya seorang wanita, berwajah kalem itu.
.
Angga mendongak dari mejanya yang berantakan penuh serpihan kertas.
.
"Oh udah Syif, nih." Angga menyerahkan kertas berjilid itu di tangan syifa.
.
"Makasih." ucap Syifa sembari tersenyum.
.
"Ya." balas Angga pendek. Dia kembali kepekerjaannya. Menjilid lembaran proposal.
.
Senyum syifa menghilang, dia merasa tak di perhatikan.
.
"Kamu udah makan belom?" tanya Syifa, tak menyerah.
.
Angga menggeleng. "Blom Syif."
.
"Yuk makan dulu, di sebrang sana ada Kafeteria loh, makanannya enak enak." ajaknya.
.
"Kamu duluan aja Syif, Pekerjaan aku masih banyak." sahut Angga lagi tanpa memandang.
.
"Bentar aja Nemenin aku makan, paling enggak sampe 15 menit. Habis itu kita kesini lagi. Gimana?" kata Syifa, sembari memajukan tubuhnya, lebih dekat lagi ke Angga.
Semerbak harum parfumnya semakin menguat.
.
Angga menaruh guntingnya di meja, dia kaget melihat Dada syifa yang udah terlalu dekat itu.
Cowok itu mundur kebelakang.
Syifa menyadari kalo Angga terusik. Dia beringsut mundur.
.
"Yuk?" ajak Syifa.
.
"Yaudah, bentaran aja." kata Angga.
.
Bersambung ...

No comments