Cerita Cinta Another Dream Part 2

ANOTHER'S DREAMS
2
.
.

cerita cinta bikin baper

.
Hari-hari ku terasa sepi tanpa kehadiran Asep.
Biasanya ia akan mengajakku makan dirumahnya setelah pulang dari kampus.

Aku benar-benar Kesepian tanpa Asep. Semuanya terasa hampa.

Langkahku pelan, menendang-nendang kerikil jalan, menunduk sembari meruntuk.

Saat aku mendongkak, seketika langkahku terhenti.

Di hadapanku, Angga berdiri tanpa ekspresi. Aku menatapnya dengan malas, mengingat Ia tak pernah sekalipun meminta Maaf atas apa yang ia lakukan pada Asep.

" Minggir. "

Bukannya menyingkir. Ia melangkah semakin dekat padaku.

BRUK!

Mataku melotot saat tubuhnya Ambruk begitu saja.

" Yaak! "
Aku menyenggol bahu nya dengan kaki ku.
Angga tak bergeming, seketika itu rasa Was-was menghampiriku.

Aku melirik kanan kiri, tak ada siapapun.
Jalanan begitu sepi karena hari sudah menunjukan pukul 17:55.

Angga adalah orang yang menyebabkan Asep terluka. Ia sudah menyakiti Asep! Aku menghembuskan nafas dengan kasar.

Dengan terburu-buru aku melangkah tanpa memperdulikan Angga yang tergeletak di Jalan.

Namun baru beberapa langkah, Suara gemuruh menggema. Pertanda akan turun Hujan.

Aku terdiam. Melirik tubuh angga yang masih terkapar. Apa yang terjadi padanya?

Aku mengacak rambut. Bimbang harus menolongnya atau membiarkannya.

Rintik hujan perlahan turun. Aku menggeram seraya berlari menghampiri angga.

Aku memapahnya dengan susah payah.
Sampai ke depan rumah.

" Nana?! Siapa itu! "
Seru ibu ku.

Aku terdiam, tak mungkin mengatakan kalau Ia adalah orang yang membuat Asep masuk rumah sakit.

" Gak tau, tanya aja ntar kalo udah bangun. "

" Astagfirullah Nana! "

" Nana capek, mau mandi. "
Aku melangkah masuk kedalam rumah. Membiarkan Angga di depan teras dengan ibu yang kebingungan.

-

" Nana! Nana! "

" Apasih bu? "

" Kamu ini gimana! Jelasin dulu sama ibu! "

Aku melirik Angga yang sudah ada Di Sofa. Ibu pasti memapahnya. Matanya masih terpejam.

" Dia pingsan di jalan. Karna Hujan, jadi Nana bawa kesini. " jelasku.

Ibu tersenyum. " Kamu anak baik sayang. " tuturnya.

Andai saja ibu tahu kalau orang itu yang membuat Asep harus diLarikan ke China. Aku yakin ibu tak akan pernah membiarkannya Masuk kedalam rumah ini.

" Nana laper bu. "

" Ya udah sana Makan, udah ibu siapin. "

Aku mencium pipi ibu dengan penuh kasih sayang. " Makasih bu. "

***** *****

" Apa gak sebaiknya kita bawa aja kerumah sakit? "

Aku berdecak kesal. Sudah hampir jam sembilan malam, Angga belum sadarkan diri.
Harusnya saat ini aku sudah tidur dengan tenang.

Dasar pengganggu!
" Nyesel gue nolongin lo! Nyusahin! "

" Nanaa! "

" Iya Maaf.. "
Aku melangkah dengan kesal.
Meminta tolong pada seseorang untuk membantu.

" Ya allah.. "
Ibu ku semakin panik saat Angga dibawa ke mobil.

" Ibu gak usah ikut. Di rumah aja. "

" Ibu mau ikut, Ibu khawatir. "
Ibu ku segera masuk kedalam mobil.
Aku berdecak menatap wajah Angga yang semakin pucat.

Ada sedikit rasa kasihan yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya ada apa dengan Angga?

Baru aku tahu beberapa hari yang lalu.
Ternyata Angga adalah anak dari pemilik perusahaan ternama. Pantas saja sikapnya Angkuh dan sombong.

Seringkali aku melihat ia berkelahi.
Bermain dengan Wanita. Bahkan aku pernah melihatnya berciuman dengan Shinta. Ck, menjijikan.

Sesampainya di rumah sakit, Angga dibawa oleh beberapa perawat. Aku dan ibu mengikuti dari belakang.

Setelah masuk kedalam ruangan, Seorang suster menutup pintu.

Ibu terlihat sangat cemas, berbeda denganku yang sama sekali tak mengkhawatirkan keAdaanya.

Mungkin saja, Angga pingsan karena berkelahi dan kelelahan. Atau mungkin ia terlalu banyak minum-minuman keras. Atau mungkin.. Entahlah, aku tak tahu.

Yang pasti saat ini, aku mengantuk.

****** *****

" Apa anda keluarganya? "

Mataku mengerjap pelan. Tak tahu sejak kapan dokter itu masuk dan menangani Angga. Kini ia berada di hadapanku dan ibu.

Perlahan aku mengumpulkan kesadaran, sepertinya aku ketiduran.

" Iya dokter. Bagaimana keAdaan anak saya? "
Sahut ibu, seraya berdiri menghampiri sang Dokter.

Aku melotot, tak menyangka jika ibu akan berkata seperti itu. " Buu! " tegurku.

Ibu mencubit tanganku, mengisyaratkan aku untuk diam. Aku mendengus kesal. Bagaimana jika rumah sakit ini meminta Bayaran? Siapa yang akan membayar?

Aku dan ibu bukan orang kaya! Hidup kami serba pas-pasan. Tak mungkin bisa membayar biaya rumah sakit.

" Mari ikut saya, ada beberapa hal yang harus saya jelaskan. "

Dengan sigap Ibu mengikuti Dokter, aku terdiam. Meruntuk dalam hati.

" Nana ayo! "
Ibu melotot, menarik tanganku untuk ikut dengannya.

" iishh! "
Geramku.

Di dalam ruangan dokter. Aku duduk dengan Malas. Sesekali mengucek Mata yang terasa sangat berat.

Harusnya sekarang aku tidur dengan nyaman di kasur indahku tanpa ada yang mengganggu kecuali jika Mimpi itu datang lagi.

Sekarang bukan Mimpi. Angga benar-benar mengganggu ketenangan hidupku.

" Anak ibu di diagnosis mengalami Gagal Ginjal. "

Mataku yang terpejam seketika itu terbuka.
Dokter itu menatap ibu dan aku secara bergantian.

" Gagal Ginjal? "
Raut wajah ibu terlihat semakin khawatir dan panik.

Aku mengerjap pelan. Apa aku tak salah dengar?

" Apa sebelumnya di keluarga ibu ada yang memiliki riwayat penyakit itu? Karna kemungkinan besar ini adalah faktor keturunan. "

Wajah ibu menegang, aku sendiri bingung.

" Iya dokter, Suami saya.. Suami saya memiliki riwayat penyakit itu. " gugupnya.

Aku mendesah pelan. Ibu berbohong lagi. Itu artinya akan ada kebohongan-kebohongan selanjutnya.

" Sebaiknya ibu segera mencari donnor Ginjal. Agar anak ibu bisa segera di Operasi. "

Jantungku terasa lemas. Ini masalah besar, Menyangkut hidup dan mati seseorang.

Dimana aku bisa mendapatkan donnor Ginjal dengan cepat. Jangan sampai Ibu mengatakan bahwa ia akan mendonorkan Ginjalnya. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.

" Terimakasih Dokter. Saya akan mencari nya secepat mungkin. " Ucapku.

Kali ini ibu melotot. Aku tahu ia pasti kaget.
Aku segera menarik ibu setelah berpamitan dengan Dokter.

" Kamu ini gimanaaa! Mau cari kemanaa? "

" Aku gak tau. "
Sahutku.

Ibu menggelengkan kepala. Memijit keningnya membuat aku khawatir.

" Ibu kenapa? "

" Ibu gak apa-apa. Ayo kita lihat anak itu. "

Aku mengikuti ibu. Aku tahu, ia pasti kelelahan saat ini.

Rasanya aku sedikit menyesal karena membawa Angga kerumah. Namun di sisi lain, aku juga merasa khawatir setelah tahu kondisi Angga.

Aku menutup pintu dengan Hati-hati.
Angga masih belum sadarkan diri. Ibu menghampirinya dengan pelan.

" Kamu malang sekali nak.. "

Aku dapat melihat ibu menitikkan airmata.
Huh, ibu memang terkadang selalu berlebihan.

" Masih Muda, tapi hidup kamu di ambang kematian. " lirihnya.

" Saya akan membantu kamu- "

" Ibu gak akan donorin ginjal buat dia kan! "
Tegasku.

" Kamu ini ngomong apa."
Ibu menatapku dengan tatapan heran.

" Janji sama Nana bu! Ibu gak akan ngelakuin itu kan! " Tuntutku.

Aku ketakutan.
Aku takut, Ibu melakukannya.
Aku masih ingat, Dulu ketika tetangga ibu melahirkan dan kehabisan darah. Ia mendonorkan darahnya, sampai-sampai tubuhnya lemas. Beberapa hari kemudian, Ibu sakit.

Ia tak segan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan tanpa memikirkan dirinya sendiri.

" Aku akan cari Ginjal buat dia! Tapi ibu janji! Ibu janji gak akan ngorbanin diri ibu sendiri! "

" Sayang.. "

" Aku takut.. "
Airmata ku mengalir, menatap ibu dengan tatapan memohon.

" Aku takut kehilangan Ibu.. "

Ibu menarikku kedalam pelukannya.
Ia memelukku dengan erat, bahu nya bergetar hebat.

Ibu mengangguk membuat perasaanku kembali tenang. " Ibu janji, sayang

0 Response to "Cerita Cinta Another Dream Part 2"

Post a Comment

Subscribe