Cerita Cinta Sedih berjudul Mimpi Lain Part 1

cerita cinta sedih yang bikin baper, penuh dengan drama dan cinta. tak perlu berpanjang lebar langsung saja cekidot

Lagi-lagi aku tersentak dari tidurku.

" Mimpi lagi! "

" Tu orang siapasih! "

" Kenapa muncul terus di mimpii gueee !! "

Aku berdecak kesal, mimpi itu datang lagi. Menganggu tidurku, mimpi tak jelas! Menyebalkan.

Dering ponsel membuat kekesalanku menguap, aku segera meraihnya dengan cepat.

Notifikasi dari seseorang yang akhir-akhir ini sering mengirim pesan padaku. Membuat aku risih dan malas membuka Akun Facebook.

Cerita cinta di mulai



cerita cinta bikin sedih


Aku bisa saja memblokirnya. Hanya saja, aku lebih memilih untuk mengabaikannya. Tanpa membuka pesannya apalagi membalasnya.

Tak penting.
Dunia Maya penuh dengan kebohongan, Menurutku.

" Nanaaaa! "

Aku menoleh kearah pintu yang terdengar diketuk dari luar. Suara Ibu menggema memanggil nama ku.

Yaa..
Namaku adalah Nana Febriana.
Usia ku 21 tahun, Aku adalah seorang mahasiswa.

" Iyaaa.. " sahutku.

" Bantuin ibu jemur baju. "

Aku mendesah pelan. Ini adalah hari libur.
Biasanya aku memang membantu ibu menjemur baju.

Ibu ku Aisyah. mempunyai Usaha Loundry.
Hasilnya cukup untuk biaya hidup kami berdua.

" Sana Cuci muka. "

Aku mengangguk sesekali mengucek mata, karena masih mengantuk.

" Selamaat pagiiii~ "

Senyumku terukir saat Mendengar suara Asep. Ia adalah sahabatku.

" Nana belum bangun ya? "

" Udah, noh lagi cuci muka. "

Aku segera menghampiri Asep yang terlihat sudah rapih. " Kamu mau kemana sep? Udah rapi gitu. " tanya ku seraya duduk di meja makan.

" Mau ngajakin Nana joging. "

" Joging pake baju kayak gitu? Yang bener aja Aseeep! "

Ibu ku terkekeh sembari menggelengkan kepala. Asep memang sedikit Aneh, ia Culun dan pemalu.

Asep seringkali menjadi bahan Bullyan saat sekolah. Aku pernah menolongnya saat ia di hajar preman.

Setelah itu kita menjadi dekat dan bersahabat sampai saat ini. Seperti tak terpisahkan, Asep selalu saja mengikuti ku. ia bilang, aku adalah pelindungnya.

Keluarga ku dan keluarga Asep juga sangat dekat. Kami sering sekali menghabiskan waktu bersama.

" Hehee Asep gak tau, nanti Nana yang pilihin baju buat Asep. " seru nya penuh semangat.

" Udah sarapan sep? "

" Asep mau sarapan disini. "

Aku terkekeh, Asep sangat lucu menurutku.
Usia nya 22 tahun, namun pikirannya masih seperti anak kecil. Sangat polos.

" Duduk Sep, ntar bantuin aku Jemur baju. Oke? "

Asep mengangguk semangat.
Aku mengambilkan piring dan menyendok nasi goreng buatan ibu.

" Bibu gak makan? "
Tanya nya.

" Bibu Udah. "
Sahut ibu ku.

Aku kembali tersenyum kecil. Asep memanggil ibu ku dengan panggilan itu. Terdengar sangat lucu, aku menyukainya.

Ia juga menyuruhku untuk memanggil Orangtuanya dengan sebutan yang sama.
Bibu dan Babah.

-

" Kenapa sih Sep? "

Aku berkerut kening saat melihat Asep seperti tak nyaman saat berlari.

" Asep gak suka pake baju kayak gini. "
Jawabnya pelan.

Aku memutar bola mata. " Kenapa coba? Asep keliatan ganteng banget tau, Nana suka liatnya. "

Dan benar saja, Mata Asep terlihat berbinar. " Beneran? "

" Iyaa.. "

Detik berikutnya Asep tersenyum, memamerkan Gigi nya yang putih dan bersih. " Asep suka kalo Nana suka. "

" Nah.. Makanyaa, udah biasain aja pake baju kayak gitu. "

" Iya. Hehee. "

Aku dan Asep kembali melangkah, berlari kecil mengelilingi taman kompleks yang lumayan besar.

" Huhh.. Asep capek. "

" Ya udah sana, duduk dulu. "
Suruhku.

Asep melangkah ke arah bangku. Aku masih tetap dengan posisi berjalan di tempat.

TIIIINN TIIINN!

Suara klakson mobil menggema membuatku tersentak. Disana, Asep terlihat ketakutan.

Seseorang keluar dari dalam mobil, menghampiri Asep. " HEH CULUN! PUNYA MATA GAK LO! "

Seketika Emosi ku memuncak, aku melepas sepatu seraya mendekat.

BRUK!

" AKKHH! "

Aku melihat lelaki itu mengaduh, mengusap kepalanya.

" Asep gak apa-apa? "
Tanya ku seraya membantunya berdiri.

Asep menggelengkan kepalanya, memindahkan diri kebelakangku.
Itu tandanya Asep ketakutan.

" Eh! Lo- "
Aku melayangkan telunjuk tanganku pada wajahnya.

Mata ku mengerjap pelan saat bertatapan langsung dengan lelaki yang kini berada dihadapannku.

Wajahnya seperti tak Asing lagi.

" Apa lo hah? "

Suara nya, seperti..

( flashback. )

" Nana.. Ini aku Angga. "

" Angga? "

" Aku kangen sama kamu. "

( flashback Of. )

Mimpi itu!

Seketika aku menelan ludah, gelagapan.
" A-apa! " sahutku gugup. Seraya menarik tanganku.

Lelaki itu tampak terlihat bingung, aku segera menarik tangan Asep untuk menjauh darinya.

" Heh! Tungguu! "

Jantungku berdegup kencang. Biasanya aku akan menghajar siapapun yang berani membentak atau memarahi Asep, namun kali ini nyali ku seolah hilang. Kenapa lelaki itu bisa ada Disini!?

" Na! Nana.. Hhhhh "

" Aduh Aseeepp cepetan! "

" Nana kenapahhh.. "

" Udah.. Ayo pergi aja. "
Panikku.

Asep tetap saja diam, ia menatapku dengan tatapan yang tak seperti biasanya. " Nana takut? "

Aku mengerjap pelan. " Y-ya enggaklah Asep, Nana cuma- " Otakku berputar, mencari Alasan yang mudah di mengerti oleh asep.

" Nana kan abis olahraga, jadi Nana capek. Gimanadong? " keluhku.

Aku tahu Asep pasti heran kareka aku tak menghajar lelaki itu.

" Harusnya.. Asep yang ngelindungin Nana. "
Lirihnya.

Aku terdiam. Asep terlihat sangat sedih. " Asep! Asep! Hey.. " aku membalikan badannya untuk menatapku. " Nana gak suka asep sedih kayak gini! "

" Asep sayang Nana. "

Aku mengangguk. " Nana juga sayang Asep. "

Detik berikutnya Asep tersenyum, Aku ikut tersenyum. Kita memang saling menyayangi.

Perasaan ini hanya sebatas rasa sayang. Aku yakin itu. Karena Asep sendiri memang tak mengerti Cinta. Ia sangat polos, berbeda dengan lelaki lain. Itu membuatku ingin selalu melindunginya.

***** *****

Aku menghirup udara dalam-dalam. Berkerut kening saat melihat semua orang berkerumun di lapangan kampus.

" Ada apaan sih? "
Gumamku keheranan.

" Na! Nana! "
Langkahku terhenti saat Silvy menghampiriku dengan tergesa-gesa. Silvy adalah temanku.

" Paan? "

" Si Asep! "
Paniknya.

" Kenapa? "

" A-aduhh! Ayo deh lo liat aja! "
Silvy menarik tanganku. Menerobos kerumunan.

Mataku melotot saat melihat Asep terkapar dengan Wajah babak belur.

" ASEEP! "
Teriakku panik.

Kacamata Asep sudah hancur tak beraturan.
Bibirnya berdarah. Matanya bengkak. Asep tak sadarkan diri.

" SIAPA YANG BERANI NGELAKUIN INI! "
Teriakku penuh Emosi.

Semua orang terdiam. Airmata ku mengalir, tak tega melihat kondisi Asep.

" GUE. "

Tatapanku teralih pada lelaki yang berjalan dengan angkuhnya kehadapanku.

Lelaki itu, lelaki yang sering muncul di dalam mimpi ku.

" Maksud lo apa! "
Tanya ku mencoba tenang.

" Iseng. "
Sahutnya santai.

Tanganku mengepal mendengar jawabannya.
" Iseng? " Aku tersenyum getir. " Iseng lo bilang? "

BUGH!

Tanganku melayang meninju wajahnya. Ia terjungkal kebelakang terlihat kaget mendapatkan serangan tiba-tiba dariku.

Ia tak melawan, aku semakin berani menghujamnya dengan tinjuan membuat suasana semakin riuh.

" Na! Nana! Udah! "
Teriak Silvy sembari menarik tanganku.

" Kalo lo berani nyentuh sahabat gue lagi. Gue patahin tangan lo! " Ancamku.

" Gilaaa si Nana Serem anjir. "

" Nana Is the best! "

Aku segera memapah Asep di Bantu Silvy untuk segera membawa nya kerumah sakit.

Tak henti Airmata ku mengalir. Asep selalu saja menjadi bahan ke Isengan oranglain.

" Maafin gue Sep. "
Lirihku, sembari memegang tangannya.

" Ini bukan salah lo. Na. "
Silvy menyahut sembari memegang bahu ku.

" Gue telat. Harusnya gue dateng lebih Awal. "
Lirihku.

-

Sesampainya di rumah Sakit.
Aku dan Silvy menunggu dengan Resah.

Aku sudah menghubungi Orangtua Asep. Mereka sedang dalam perjalanan.

" Dokter gimana keadaan Asep? "

Dokter itu tertunduk lesu, membuat perasaanku resah.

" Apa anda dengan keluarga nya? "

" I-iya dokter. "

" Mari Ikut saya. "

Aku memberikan Isyarat pada Silvy untuk menunggu. Suster belum membolehkannya untuk masuk karena masih dalam penanganan.

Aku mengikuti Dokter keruangannya.
Duduk dan berharap, Asep baik-baik saja.

" Kondisi pasien sangat memprihatinkan. Hidung dan tangannya patah. Tulang belakang mengalami Cidera yang serius. Ini akan memakan waktu yang lama untuk penyembuhan. "

Tangan ku kembali mengepal, Airmata ku kembali mengalir. " L-lalu bagaimana dokter? A-pa Asep- "

" Saya menyarankan agar pihak keluarga segera membawa pasien ke rumah sakit Spesialis tulang. "

" Apa separah itu dok? "

" Sangat parah. "

Setelah mendengar penjelasan dokter aku segera menemui asep di ruangan nya.

Aku menangis lagi, sampai keluarga Asep datang. " M-maafin Nana. " lirihku memeluk Ibu Maesyaroh.

" Ini Sudah takdir. Terimakasih karna Kamu melindungi Asep selama ini. " sahutnya pelan. Aku tahu ia hanya pura-pura tegar.

" Nana.. Kami akan membawa Asep ke China. Disana ada sahabat Ayah yang akan menangani Asep. " Babah Mahpud bersuara membuat tangisku semakin pecah.

Itu artinya aku akan berpisah dengan Asep untuk Waktu yang lama.

" Kami akan tinggal disana sampai kondisi Asep membaik. "

" B-bu.. "

" Kamu tenang saja. Asep akan baik-baik saja disana. Ibu janji akan selalu ngabarin kamu. "
Ibu Maesyaroh mengusap bahu ku, menenangkan seolah tahu Apa yang aku khawatirkan.

Di sela-sela tangisku. Ibu datang dengan raut Wajah khawatir. Tangisnya terdengar saat melihat kondisi Asep yang terbalut perban dimana-mana. " Ya allah Asep! Ini bibuu asep. Bangun. "

Asep sama sekali tidak bergeming. Aku menghampiri ibu dan memeluknya dengan erat. " A-asep mau di bawa bu. " lirihku mengadu.

" Di bawa? Di bawa kemana Mae! "

" Ke China Ai. Kami akan tinggal disana sementara Waktu. "

Ibu ku terdiam. Aku tahu ibu ku juga pasti merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Asep.


Penulis : Cerita cinta ty

0 Response to "Cerita Cinta Sedih berjudul Mimpi Lain Part 1"

Post a Comment

Subscribe