Cerita Cinta Romantis Tentang Kita Part 2

Cerita-cinta-romantis-tentang-kita
2
.
Cerita cinta romantis
Cerita-cinta-romantis-tentang-kita

.
Semalaman, yaya tidak tidur karena menyesali apa yang terjadi.
Bisa-bisa nya ia memeluk raffi dengan keadaan tanpa busana, sungguh! Yaya sangat menyesal bahkan ia tidak berhenti menangis.
Salahkan lampu yang tiba-tiba saja mati ketika ia hendak berganti baju. Dan ketakutan berlebihannya.
Ia yakin sekali kalau hari-harinya akan sial karena kehadiran lelaki itu.
Berani-beraninya lelaki itu menciumnya, merebut Fristkiss nya, ia merasa ternodai.
" Mengambil kesempatan dalam kesempitan! " Desisnya dengan tangan mengepal. Ia mengusap airmatanya dengan kasar kemudian beranjak untuk segera pergi ke sekolah.
Melihat yaya keluar dari kamarnya raffi mengalihkan pandangannya.
Entah kenapa jantungnya terasa berdebar-debar, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Semalam ia sudah lancang mencium yaya. " Y-ya " panggilnya tanpa sadar.
Yaya tersentak, tatapannya teralih pada raffi yang berdiri tak jauh darinya.
Ia menatap raffi dengan datar dan dingin.
" Yaya gak sempet masak, kalo kamu pengen makan. Beli aja sendiri, disebrang sana ada yang jual makanan "
Katanya datar tanpa menatap wajah raffi.
" L-lo mau berangkat sekolah? "
Entah kenapa raffi merasa gugup.
Bodoh! Pertanyaan bodoh!
Tentu saja yaya akan berangkat ke sekolah
Raffi meruntuk dalam hati.
" Assalamu'alaikum "
Yaya melangkah begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaan dari raffi.
" Waalaikumsalam "
Sahutnya sedikit kecewa.
Setelah yaya menghilang dibalik pintu, raffi mengacak rambutnya frustasi.
" Aduh! Lo kenapasih raf! "
Raffi segera berbalik dan menjatuhkan dirinya dikursi, menatap pintu dengan nanar. " Percuma gue kesini, malah bikin masalah! " Raffi berkali-kali berdecak kesal.
Kalau sampai yaya mengatakannya pada Aminah, ia yakin. Ibu Asuhnya itu akan sangat marah.
Raffi tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, entah kenapa baru kali ini ia merasa tidak enak hati karena sudah mencium seorang wanita.
Ia sering melakukannya, bahkan wanita-wanita itu sangat rela jika ia tiduri. Hanya saja ia tetap mempertahankan keperjakaannya.
Semalam, setelah kejadian itu. Ia sama sekali tidak tidur. Jantungnya terus berdebar-debar seiring dengan bayangan tubuh yaya yang terus menghantui nya.
" Bisa gila gue! "
Desisnya.
Raffi mengusap wajahnya dengan kesal, dia mengantuk. Tapi matanya tidak ingin terpejam. Benar-benar sialan.
Bahkan semalam raffi tidak sempat mengambil ponselnya dikamar yaya.
Baru satu hari saja sudah seperti ini, bagaimana dengan hari-hari berikutnya?
*******
*******
" Yaya sayang.. Kenapa? "
Yaya sedikit tersentak saat seorang teman menghampirinya. Ia tahu pemilik suara itu. " Apanya yang kenapa? "
Tanya nya tanpa menoleh.
" Nina perhatiin daritadi yaya ngelamun terus ya "
Tanya nya penasaran.
Yaya terdiam, menatap kosong pada buku yang dibacanya. " Yaya gak kenapa-kenapa "
" Itu berarti yaya ada apa-apa "
Bibir nina menyibik karena yaya tidak terbuka padanya.
Yaya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
" Hey ya "
Yaya mengalihkan pandangannya begitu pula nina " Asep, ada apa? "
Tanya yaya, ia tersenyum kecil.
" Yaya ikut latihan kan hari ini? "
Lelaki itu ikut duduk disamping yaya.
" Yaya udah ikutan kemarin, hari ini enggak " Sahutnya.
" Kenapa? "
" Gak apa-apa sih "
Lelaki bernama asep itu mengangguk, ia mengeluarkan sesuatu dalam saku nya
" Buat yaya " ucapnya disertai senyuman.
" Buat nina mana? "
Nina mengulurkan tangannya.
" Buat kamu gak ada " Sahut asep membuat bibir nina mengerucut. " Dimakan ya, Asep balik ke kelas lagi "
Yaya mengangguk dan tersenyum tulus
" Makasih ya asep "
" Sama-sama princess "
Sahutnya dengan mengusak kepala yaya.
Ia tahu, Asep menyukainya. Tapi ia hanya menganggap asep tidak lebih dari sekedar sahabat. Yaya terus memperhatikan Asep sampai menghilang dari pandangannya.
" Ini.. Buat nina aja "
Yaya memberikan coklat itu pada nina.
" Serius? "
Mata nina berbinar.
" Iya, Makan aja. Yaya mau keperpus dulu, balikin buku "
Yaya beranjak dengan malas, seperti tak ada semangat hari ini.
" Thanks ya! Jangan lama "
" Iya "
Sahutnya pelan.
Biasanya, yaya akan langsung memakannya. Tapi kali ini moodnya benar-benar sangat buruk, dan semua itu karna raffi.
*****
*****
" Siapa tuh? "
" Gak tau! Ya allah kaseeepp "
" Ganteng! "
" Jodohnya yuyun ini mah! "
Raffi mengerling mendengar bisik-bisik anak sekolahan yang baru saja keluar dari gerbang dan melewatinya.
Ia sama sekali tidak perduli, dia sudah terbiasa mendapatkan tatapan berbinar seperti itu.
Raffi celingukan sendiri, mencari seseorang yang ditunggu nya.
Ia sengaja datang kesekolahan yaya untuk menjemputnya, sebagai tanda permintaan maaf.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang yang dilewatinya, akhirnya ia sampai di depan gerbang sekolahan yaya.
" Ekhem.. Permisi de "
" OMG! Dia manggil irmaa! "
Bukannya menjawab, gadis itu malah memekik.
Raffi mendesah pelan, kenapa mereka terlihat kecentilan? " Kenal yaya kan? "
Tanyanya.
" Yaya? "
" Ya-ya si maya maksudnya? "
" Iya maya "
Raffi mengangguk.
" Siapa sih? Kok nanyain si yaya? "
Bisik seorang gadis disampingnya.
" Dia udah pulang belum? "
Tanya raffi lagi, entah kenapa ia merasa jengkel, ia sudah menunggu sedari tadi.
" Tuh si Yaya "
Gadis itu menunjuk kearah yaya yang sedang berjalan beriringan dengan sahabatnya.
" Yaya! "
Yaya menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya, seketika itu matanya melotot. Kenapa raffi bisa ada disini?
" Hey. . "
Sapa raffi dengan senyuman menawan yang membuat teman-teman yaya memekik histeris. yaya menatap raffi dengan datar kemudian melirik nina yang terperangah. Matanya seperti mau keluar dari tempatnya.
" Ya! Dia manusia bukan? "
Pertanyaan bodoh keluar dari mulut temannya, membuat yaya mengerling.
" Dia hantu "
Sahut yaya sebal, raffi mendelik kesal.
" Kak boleh kenalan gak? "
" Nama saya yuni "
" Saya irma "
" Saya desi "
" Ya allah! Jangan-jangan ini jodoh ninaa "
Nina memekik dengan mata berbinar-binar.
Melihat itu, yaya meletet sebal. Ia melangkah lebar menjauhi teman-temannya yang mengerumuni raffi.
" Yah! Ya! Yaya tunggu ya! "
Raffi berusaha memanggil yaya.
" Kak! Namanya siapa! "
" Aduh.. Awas minggir, gue mau lewat "
Raffi menjalankan motornya, mengejar yaya yang meninggalkannya.
Yaya menggerutu, bisa-bisa nya raffi datang kesekolahannya.
Ia yakin sekali kalau hari senin, dia akan menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.
" Ya! "
Raffi mencegat langkah yaya membuat yaya menghentikan langkahnya. Ia mendelik kesal ke arah raffi.
" Ngapain kamu kesini! "
" Gue mau jemput lo lah! "
" Gak usah, yaya mau naik angkot aja "
" Ya gak bisa gitulah, gw udah jauh-jauh jemput lo kesini dan lo mau naik angkot? "
Raffi menatap yaya dengan kesal.
" Yaya gak peduli! "
" Lo masih marah soal semalem? Gue minta maaf! Lagian gue.. "
" Stop! Yaya gak mau bahas itu! "
Yaya memotong ucapan raffi dengan cepat.
" Kenapa? Lo malu? Harusnya lo seneng bisa ci- "
" Berenti! "
Yaya memekik kesal, dia tidak ingin mengingat lagi insiden semalam.
Apalagi kalau sampai teman-temannya tahu, yaya pasti akan diolok-olok.
" Ayo pulang! "
Raffi tersenyum penuh kemenangan ketika yaya menaiki motornya.
Yaya menggeram kesal, sungguh. Dia terpaksa menaiki motor raffi.
" Pegangan "
Yaya terdiam tidak memperdulikan perkataan raffi. " Aakkkh! " ia terperanjat saat raffi tiba-tiba menjalankan motornya dengan cepat membuatnya refleks memeluk raffi.
Diam-diam raffi tersenyum, melirik tangan yaya sekilas.
" Dasar tukang nyari kesempatan! "
Pekik yaya sembari memukul bahu raffi setelah melepaskan pelukannya.
" Gue kan udah bilang pegangan, lo nya aja yang keras kepala "
Sahut raffi santai, seolah pukulan Yaya tidak ada apa-apanya.
" Udahlah! Yaya mah gak mau ngomong sama kamu! "
Teriaknya.
Raffi menggedikam bahunya tidak peduli.
Sampai ia merasakan perutnya berbunyi.
Seketika itu ia ingat tujuannya menjemput yaya.
" Ya "
" Ya! "
" Apa! "
Sahutnya ketus.
" Gue laper, Gue belum makan dari pagi "
Kata raffi jujur.
Yaya tertegun, mencerna ucapan raffi.
" Lo bisa kan bawa gw ketempat makan? "
" Lurus aja, nanti sisebelah kiri ada rumah makan "
Sahut yaya pelan, raffi tersenyum kecil mendengarnya.
Sesampainya disana, raffi langsung memesan begitu banyak makanan membuat yaya melongo.
" Kok lo malah diem? Makan dong ya "
Raffi mendongkak, menatap yaya.
" Ngeliatnya aja yaya jadi kenyang "
" Lebay lo, buruan makan! "
Yaya mendesah pelan, ia sudah diajarkan untuk tidak makan berlebihan.
Yaya memperhatikan cara makan raffi yang terlihat begitu terburu-buru, sepertinya memang kelihatan sangat lapar. Dalam hatinya ia merasa bersalah.
Merasa diperhatikan raffi kembali mendongkak.
" Kenapa lo ngeliatin gue? Mau disuapin? "
Yaya meletet sebal, kemudian memakan makanannya sendiri.
" Tuh kan gak abis! Lagian kenapa banyak-banyak sih pesennya! " Tegur yaya setelah raffi selesai dengan makananya. Ia menatap beberapa menu masakan yang belum tersentuh sama sekali.
" Ya lagian, gue beliin itu buat lo. Eh tau nya makan lo dikit banget. Berarti ini salah lo lah " Sahut raffi tidak mau kalah. " Udah biarin aja kalo lo gak mau makan, tinggalin aja " Raffi mengerling ketika yaya malah tidak menyahut.
" Ini beneran buat yaya? "
Tanya yaya setelah terdiam beberapa saat.
" Iyalah, buruan makan "
Yaya mengangguk dan tersenyum manis membuat raffi terpaku sesaat. Senyuman yaya begitu indah.
" Mbak.. "
Yaya beranjak dari duduknya.
Raffi terdiam memperhatikan kepergian yaya, entah apa yang akan dilakukan yaya. Ia terlihat tengah berbisik pada seorang pegawai rumah makan itu.
" Mau ngapain lo? "
Tanya raffi saat yaya kembali duduk dihadapannya.
" Enggak mau ngapa-ngapain "
Sahut yaya santai membuat raffi mengerling.
" Dasar cewek aneh! "
Raffi menggerutu.
-
" Makasih yaa mbak "
" Sama-sama, lain kali mampir lagi yaa "
" Insya'allah "
Yaya kembali tersenyum manis dan bersaliman dengan seorang wanita itu, Raffi merasa terpesona dengan senyuman yaya.
" Buruan ya! "
Dan benar saja, tatapannya menjadi dingin setelah raffi memanggilnya.
" Ngapain lo barusan? "
" Gak ngapa-ngapain "
Raffi menggeram kesal mendengar jawaban yaya, setelah itu menyuruhnya naik untuk segera pulang.
Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Yaya merasa malas mengobrol dengan raffi, kejadian semalam benar-benar tak terduga membuatnya sangat malu.
" Stop! Stop! Yaya turun disini "
" Kok turun disini? "
Raffi menghentikan motornya seketika.
" Kamu duluan aja sana "
Yaya turun dari motor raffi.
" Ck, aneh banget sih lo "
Gerutunya.
" Udah buruan sana, pulang. Yaya ada urusan dulu "
Raffi meletet gemas, wanita memang keras kepala. Dengan sigap ia melajukan kembali motornya tanpa menyahut. Setelah memastikan raffi benar-benar pergi yaya tersenyum, melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah gang.
Tanpa yaya sadari, raffi sebenarnya tidak langsung pulang. Ia memilih menghentikan motornya karena penasaran. " Mau kemana tuh bocah? "
Gumamnya pelan.
Raffi kembali ketempat dimana ia menurunkan yaya, memarkirkan motornya. Kemudian berjalan mengendap-endap mengikuti yaya yang terlihat berjalan kesuatu tempat.
Raffi tertegun, ketika disebuah halaman rumah yaya disambut oleh tiga orang anak kecil.
" Siapa mereka? Ngapain si yaya kesini? "
Tanya raffi bingung, yaya nampak sangat ramah dan ceria. Berbeda ketika saat bersamanya.
" Kalian udah makan? "
Samar-samar raffi mendengar yaya bertanya pada anak-anak itu, diiringi dengan gelengan serentak.
" Ayo kita makan.. Teteh bawa makanan, kita makan sama-sama yuk "
Raffi terdiam, anak-anak itu terlihat senang begitupula dengan yaya.
Mereka semua masuk kedalam rumah.
Rumah itu terlihat sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kamar mandi dirumahnya.
Karna rasa penasaran yang semakin tinggi, raffi mengintip disebuah celah.
Dapat ia lihat, dengan penuh perhatian. Yaya menyuapi anak-anak itu, bahkan menyuapi dirinya sendiri.
Itu adalah makanan yang ia pesan beberapa menit yang lalu, yang tidak termakan. Yaya membungkusnya, dan membawanya kesini.
Raffi merasakan perasaannya menghangat, baru kali ini ia bertemu dengan gadis seperti yaya.
Raffi terus saja memperhatikan yaya, matanya seperti tidak mau melepas pandangan.
" Kalian jaga diri baik-baik ya, teteh pulang dulu. Imas, kamu jagain adik-adik. Kalo ada apa-apa. Kerumah teteh aja "
" Iya teteh "
" Ini.. Buat kalian, jangan boros. Kalo nanti teteh punya uang banyak, teteh kesini lagi "
Raffi terenyuh menyaksikan perhatian yaya kepada anak-anak itu. Hatinya menyesak.
" Astagfirullahaladzim! "
Yaya tersentak kaget begitupula dengan anak-anak yang ada dibelakangnya.
Entah apa yang raffi rasakan kini, ia hanya bisa terdiam.
" Teteh.. Itu siapa? "
Tanya salah satu anak kecil dibelakang yaya.
Yaya mengerjap pelan, didalam hati ia meruntuk. Tidak langsung menjawab.
" Hey? "
Sapa raffi canggung, anak-anak itu hanya terdiam menatap raffi tanpa menyahut.
" Udah, mendingan kalian masuk. Udah sore. Mandi, jangan lupa ngaji. Udah sana, tutup pintunya "
Anak-anak itu mengangguk dan menuruti perkataan yaya.
Raffi menatap yaya dalam diam, yaya tetap saja ketus padanya. Padahal ia lihat sendiri. Saat bersama anak-anak itu yaya begitu ramah dan ceria.
Karena tidak ada yang membuka suara, yaya akhirnya mendesah dan berjalan terlebih dahulu.
" Ya! Tunggu ya! "
" Apasih? Kamu kenapa ngikutin yaya kesini! "
" Ya gak mungkin lah gw ninggalin lo disini "
" Ck, udaahlah. Ayo pulang "
" Mereka siapa? "
" Mereka anak-anak yaya "
Jawab yaya asal.
Raffi melotot kaget.
" Jadi lo udah punya anak? Serius lo! "
Yaya kembali berdecak, entah pura-pura bodoh atau apa raffi terlihat sangat konyol.
" Iya, kenapa? "
" Lo punya anak dari siapa? Jangan-jangan lo hamil duluan terus cowok lo gak tanggung jawab iya! "
Yaya tersentak, setelah itu ia memejamkan mata mencoba untuk menahan emosinya. Raffi benar-benar bodoh!
" Terserah! "
Yaya berjengit, mempercepat langkahnya.
" Gue gak percaya! "
Gumam raffi pelan.
******
******
" Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Terpesona ya? "
" Hiihh amit-amit da! gustiii anu agung.. Ternyata selain sok tau, kamu juga sok kegantengan. Kepedean pisan! "
Bibir yaya menyibik sebal.
" Emang kenyataannya gue ganteng "
" Masih gantengan sehun Exo daripada kamu mah!! "
" Itu abang gw "
" Amit-amit! "
Yaya menhentakan kakinya beberapa kali.
" Kenapasih lo, lagi PMS ya! "
Raffi merasa heran dengan sikap yaya yang selalu marah-marah padanya.
" Atuh kamu teh kunaon! Ini teh udah mau adzan, malah tiduran. Bukannya sholat! "
" Sholat? "
Raffi mengerutkan keningnya.
" Iya sholat, kemesjid sana! Da aku mah bakalan ngusir kamu kalo kamu masih cicing molohok teu paruguh kitu! "
Raffi terdiam mendengar penuturan yaya, ia tidak mengerti. ia tertegun karena Ia tidak tahu bagaimana caranya sholat. Ia lupa.
Yaya mengerling karena raffi malah terdiam. Ia berjengit masuk kedalam kamar ibu nya.
" Ini! Buruan ganti baju terus pergi kemesjid. Bentar lagi adzan "
" Buruan raffi! "
Yaya berteriak kesal.
" Bawel banget sih lo! "
Raffi mendengus, merebut peci dan sebuah baju serta sarung yang diberikan yaya padanya.
Yaya merenggut sebal, memperhatikan raffi yang melangkah masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju.
Didalam kamarnya, raffi terdiam didepan kaca . Memperhatikan penampilannya yang 180 derajat sangat berbeda.
Ia melirik peci kemudian memakainya.
" Gilaa! Konyol banget gue pake baju kayak gini, gak ada keren-kerennya "
Raffi bergumam, sesekali memutar tubuhnya.
" Raffiii! Buruan atuh ih udah mau adzan! "
Raffi memutar bolamatanya malas saat mendengar yaya kembali berteriak.
Ia keluar dari kamar dengan tatapan yang sulit diartikan.
Yaya mengerjap pelan, entah kenapa raffi terlihat sangat tampan. Dengan cepat Ia menepis pemikirannya, yang tampan baginya hanyalah ilham. Pujaan hatinya.
" Buruan sana kemesjid! "
Pekiknya.
" Lo pikir gue tau mesjid nya! "
Yaya menggeram kesal, menyeret langkah raffi sampai ke depan pintu. " Tuh! Liat.. Bapak-bapak itu juga mau pada kemesjid. Kamu ikutin aja mereka "
" Kalo gue nyasar gimana? "
Kata raffi mencoba mencari alasan.
" Gak usah banyak alesan! Buruan sana! "
Yaya mendorong tubuh raffi membuatnya sedikit terhuyung.
Raffi mengangkat tangannya dengan kesal, jika saja yaya laki-laki. Ia pasti akan langsung menonjoknya.
Yaya berkacak pinggang seolah menantang membuat raffi hanya bisa mendesah pelan, melangkah dengan kesal. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
Sesampainya disebuah masjid, raffi celingukan sendiri. Mengikuti seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Gelagat raffi benar-benar aneh, membuat beberapa orang menatapnya curiga.
" Assalamu'alaikum "
Raffi tersentak kaget, menegakkan tubuhnya saat seorang bapak-bapak dan lelaki seusianya berdiri dihadapannya.
" W-waalaikumsalam "
Sahut raffi tegang, ia melirik lelaki muda yang menatapnya. Ia ingat, itu adalah lelaki yang bersama yaya.
" Anda ini siapa? Tamu darimana? "
Tanya bapak-bapak itu selembut mungkin.
" Gu- A-ah saya, saya tamu dirumahnya bu Aminah " Jawab raffi gelagapan.
" Oh, Mau sholat? "
Raffi mengangguk, bapak-bapak itu tersenyum. " Sok atuh jang, kita ambil wudhu dulu "
" I-ya "
Raffi mengikuti langkah bapak-bapak itu sampai ke tempat wudhu.
Berwudhu dengan Asal sesekali melirik bapak-bapak itu dengan ekor matanya.
Melihat itu, ilham termenung. Memelankan langkahnya untuk memperhatikan raffi lebih jelas.
Setelah selesai berwudhu, raffi diajak masuk kedalam masjid. Ia kembali celingukan.
Sudah bertahun-tahun lamanya, ia tidak pernah menginjakkan kaki ke mesjid.
-
" Tunggu jang, punten "
Raffi menghentikan langkahnya dengan alis bertaut. " Ada apa pak? "
" Bu Aminah ada dirumah? "
Tanya nya.
" Enggak ada, bu Aminah masak kalo gak salah "
Bapak-bapak itu terdiam mendengar penuturan pemuda yang ia taksir seusia dengan anaknya.
" Ilham "
" Iya pak "
Sahut ilham.
" Kamu anter si Ujang ini, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan "
Ilham mengangguk dan bersaliman dengan bapaknya.
"Assalamu'alaikum "
" Waalaikumsalam "
" Ayo "
Raffi mengangguk, mengikuti ilham yang berjalan lebih dulu.
" Biasa aja, gak ada keren-kerennya. Kerenan juga gue. Tapi si Maya kayaknya suka banget sama ni cowok "
Batin raffi.
***
Sesampainya disana ilham mengetuk pintu, raffi hanya terdiam memperhatikan. " Assalamu'alaikum neng.. "
" Waalaikumsalam "
Sahut yaya diiringi dengan pintu terbuka.
Raffi dapat melihat, yaya tersentak ketika tahu yang ada dihadapannya itu ilham.
Yaya melirik raffi sekilas .
" Aa.. Silahkan masuk a "
Ilham mengangguk, di ikuti senyuman malu yaya. Melihat itu raffi meletet sebal.
" Aa mau minum? Atau mau kopi? "
Tawar yaya.
" Apa aja neng "
Sahut ilham lembut.
Yaya tersenyum dan melangkah ke arah dapur, untuk membuatkan kopi.
Suasana hening, raffi malas sekali berbicara. Entah kenapa, melihat tatapan yaya pada ilham membuatnya sedikit jengkel.
Tidak lama yaya kembali lagi dengan membawa dua gelas kopi dan kue kering.
" Makasih neng, Oh iya. Ibu gak ada? "
Tanya ilham.
" Iya a, ibu gak ada. Masak dirumah hajatan "
Ilham mengangangguk, sementara raffi merasa seperti kambing congek disini.
" Kamu berdua disini sama dia? "
" I-iya "
Sahut yaya gugup.
ilham melirik raffi sekilas kemudian kembali menatap yaya. " Jadi gini neng, Untuk mengantisipasi adanya fitnah dan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya dia nginep nya dirumah aa aja "
Raffi menoleh mendengar penuturan ilham. " Lho? Kok gitu? Gue kan tamu disini. Masa iya nginepnya dirumah lo "
Protesnya lantang.
" Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, karena tidak baik lelaki dan wanita tinggal dalam satu rumah. Kecuali makhrom nya " sahut ilham.
Mata yaya berbinar-binar mendengar penjelasan dari ilham, ilham terlihat begitu dewasa dan selalu membuatnya kagum. " I-iya a, kalo emang baiknya kitu. Boleh, biar raffi teh nginepnya dirumah aa aja. Sampe ibu pulang "
Raffi mendelik mendengar jawaban yaya, terlihat kalau gadis itu senang sekali mendengar usulan ilham. " Lagian gue disini gak ngapa-ngapain! Mana selera gue sama lo "
Yaya melotot kaget, mendengar ucapan raffi. Benar-benar tidak punya sopan santun. " Kalo ngomong teh dijaga! Kamu mau diUsir dari kampung ini! "
Semburnya kesal.
" Sebaiknya kamu menurut saja, memang sudah peraturannya seperti itu. "
Tambah ilham.
" Terserah! "
Sahut Raffi kesal, ia merasa dipojokan.
Melihat itu, yaya tersenyum penuh kemenangan kemudian melirik ilham
" Aa sok atuh diminum dulu "
Katanya lembut, sengaja mengalihkan pembicaraan.
Ilham meminum kopi yang sudah disediakan yaya untuknya. " ngomong-ngomong gimana sekolah kamu? "
Tanyanya.
" Alhamdulillah, beberapa hari lagi yaya UAS "
" Alhamdulillah, Semoga lancar ya neng. rencana nya setelah lulus mau kuliah atau kerja? "
" Belum tahu sih a, pengennya kuliah. Tapi kan yaa tau sendiri.. "
" Jangan ngeluh neng, insya'allah kalo allah berkehendak. Yaya pasti bisa kuliah "
Yaya tersenyum dan mengangguk, perkataan ilham selalu menjadi semangat untuknya. " Makasih aa "
Ilham mengangguk dan tersenyum simpul, membuat yaya menunduk malu.
Raffi meletet sebal. sungguh, Yaya sangat berbeda sekali jika berhadapan dengan ilham. Matanya selalu berbinar dan jangan lupakan senyumnya itu.
Yaya dan ilham terus mengobrol tanpa mengajaknya, membuat raffi hanya bisa terdiam menyimak percakapan mereka yang kadang tidak dimengertinya.
Raffi mendesah, ia merasa jenuh dan entah kenapa ia merasa kesal karena yaya tidak mengajaknya mengobrol dan mengabaikannya.
Tanpa bersuara, ia beranjak dan melangkah menuju kamarnya.
" Masa iya gue suka sama si yaya? "
Desisnya setelah menutup pintu.
" Gilaaa! Turun derajat gue kalo sampe suka sama dia " Raffi menatap dirinya sendiri dicermin, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
" Ya gak mungkinlah, gak mungkin gue suka sama si yaya. Cewek aneh, nyebelin lagi! " Raffi terus menggerutu tidak jelas didalam kamar, ia mengacak rambutnya kemudian merebahkan diri diranjangnya menatap langit-langit kamar.
" Raffi! "
Raffi menoleh ke arah pintu saat mendengar yaya memanggilnya.
" Raffi! Buka pintu nya ih! "
Raffi berdecak kemudian beranjak untuk membuka pintu. " Apaan? " tanya nya kesal.
" Aa ilham mau pulang, udah sana ikut "
" Ck, nanti aja lah! "
" Gak bisa gitu, emangnya kamu tahu rumahnya dimana? "
Raffi menghela nafas, kesal. Kenapa yaya selalu saja berteriak padanya?
" Udah sana! "
Akhirnya raffi hanya bisa pasrah, melangkah dengan malas diikuti yaya.
" Neng.. "
" Iya a? "
Sahut yaya lembut.
" Kamu gak apa-apa tinggal sendiri? "
" Gak apa-apa kok a, yaya kan udah gede "
Ilham tersenyum mendengar penuturan yaya, sedangkan raffi menyibik.
" Udah gede? Ck, buktinya waktu kemarin mati lampu aja lo nangis "
Yaya tersentak, mendelik kearah raffi.
Jangan sampai raffi mengatakan kalau yaya sampai memeluknya.
" Kamu nangis neng? "
Tanya ilham khawatir.
" Enggak a, raffi bohong "
Yaya menggerutu dalam hati.
" Alibi lo!! "
Raffi berjengit sebal.
Melihat itu ilham terdiam, merasa khawatir karna meninggalkan yaya sendiri.
" Sekarangkan gak ujan, jadi gak bakalan mati lampu a. Udah sana. "
" Ya udah, Kalo ada apa-apa. Nanti telpon aa aja ya "
Yaya mengangguk senang.
" Iya a "
Ilham dan raffi melangkah keluar rumah, yaya mengekorinya dibelakang.
" Langsung kunci pintu nya neng "
Kata ilham lagi.
" Iya, aa hati-hati "
" Iya, assalamu'alaikum "
" Waalaikumsalam "
Sahut yaya, jantungnya tidak berhenti berdebar-debar sedari tadi.
Bibir raffi kembali menyibik, seolah meledek yaya.
" Kamu ini sebenernya orangmana? "
Tanya ilham pelan.
" Gue dari jakarta, dateng kesini buat liburan. Sekaligus nengokin bu Aminah "
Jawab raffi.
" Sodaranya bu Aminah? "
" Gue anak asuhnya "
Ilham mengangguk.
" Lo siapa? Kayaknya deket banget sama si yaya "
" Kenapa memangnya? "
" Ditanya malah balik nanya, sialan "
Ingin rasanya raffi meninju wajah ilham.
Sementara ilham terdiam dengan pikiran yang bercamuk, ada perasaan khawatir dan takut dalam hatinya.
Ia takut kalau sampai yaya menyukai raffi.

0 Response to "Cerita Cinta Romantis Tentang Kita Part 2"

Post a Comment

Subscribe