Cerita Cinta Romantis Tentang Kita

Cerita Cinta Romantis Tentang Kita 
.
.
Cerita Cinta Romantis
Cerita Cinta Romantis Tentang Kita 

.
Hay semuanyaaa~ :v 
Mimin balik lagi membawa cerita baru.. yuhuuu~ judulnya Our love is Cinta Kita :v
.
Jangan lupa kalo udah baca, di like, terus dikoment. kasih krisarnya! biar mimin lebih semangat lagi nulisnyaa :v 
.
Dan untuk kalian yang suka ngirim pesan sama mimin, nanyain kapan update dengan kebawelan kalian itu wkkksss tolong hargai mimin oke? Jangan ngirim pesan sebelum komen lah :v males mimin balesnya kalo gitu jiahaha.. ngerajuk :v
.
Soalnya mimin sedih aja, disuruh Update cepet tapi pas update cuma dilike doang huuu~ :v
.
Sudahlah percuma mimin berbicara, lebih baik langsung saja~ 
HAPPY READING AND DON'T FORGET TO RCL! 
.
Btw, RCL itu Artinya READ-LIKE-COMEN :v 
.
.
.
Cuaca hari ini begitu terik, membuat siapapun akan malas pergi keluar rumah. 
Berbeda dengan seorang lelaki yang baru saja turun dari sebuah motor setelah menempuh perjalanan cukup jauh, ia mengedarkan pandangannya keseluruh arah. 

" Rumahnya yang mana? "
Gumannya bingung. Ia mengecek sebuah alamat yang tertulis dilayar handphone nya. 
Tatapannya terpaku pada sebuah bangunan sederhana yang berdiri kokoh di hadapannya. 
Ia mendesah pelan, ia sudah berkali-kali salah alamat dan berputar-putar tidak jelas. 
Ia mengusap layar ponselnya, mencoba untuk menghubungi seseorang. 
Setelah beberapa menit menunggu, ia berdecak. 

" Kenapa gak diangkat! " 
Lelaki itu mendengus kesal. 
" Den Raffi? " 

Cerita Cinta Romantis Tentang Kita 

Mendengar seseorang memanggilnya, lelaki itu menoleh. Senyumnya terukir jelas ketika wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman, dapat ia lihat matanya sedikit berkaca-kaca. 

" Bibi.. "
Dengan sigap lelaki yang bernama Raffi itu menghampiri seorang wanita paruh baya yang memang hendak ditemuinya. 

" Ya allah den affi, bibi pangling pisaan " 
Wanita itu berhambur memeluk lelaki bernama raffi yang kini sudah sampai dihadapannya. 
" Gimana bi? Affi tambah ganteng ya? "
Canda nya. 
" Iya den, kamu ganteng pisan. Tadi bibi liatin kamu, sampe gak kenal " 
Raffi tersenyum simpul
" Akhirnya ketemu juga, affi dari tadi muter-muter lho bi "
" Masyaallah den.. Ya udah kalo gitu, ayo masuk " 
Raffi mendesah lega, karena akhirnya ia sampai ditempat yang ingin dia tuju, Yaitu rumah pengasuhnya sewaktu masih kecil dulu. Bibi Aminah namanya. 
" Bibi tinggal sama siapa disini? " 
Tanya raffi, ia mengedarkan pandangan saat memasuki rumah itu. 
" Bibi tinggal sama anak bibi, namanya Maya " 
Sahut Aminah disertai senyuman. 
" Ohh, kok gak keliatan bi. Kemana? "
" Belum pulang sekolah "
" Oh masih sekolah "
" Iya den " 
Raffi mengangguk, tanda mengerti.
Ia mengikuti langkah bibi aminah. 
" Aden mau makan? Atau minum? " 
Tawarnya. 
" Minum aja bi, haus "
" Aden duduk aja dulu, bibi ambilin nya "
" Biar affi aja bi, Dimana? "
" Disini den "
Raffi mengikuti langkah Aminah, sesekali mengedarkan pandangannya. 
" Den.. "
" Apa bi? "
Raffi duduk dimeja makan dan menuangkan air untuk diminumnya. 
" Semalem si eneng udah bersihin kamar buat aden tidur, tapi gak apa-apa ya den. Kamarnya kecil " 
" Tapi muat kan bi? "
Sahut raffi sedikit bercanda,  Aminah tersenyum geli. 
Setelah Raffi selesai meminum air itu, Aminah kembali mengajak raffi untuk melihat kamarnya. 
Sesampainya disana, Raffi kembali mengedarkan pandangannya. 
Walaupun 3x lebih kecil dari kamarnya, Raffi dapat merasakan kamar ini begitu nyaman. 
" Aden gak apa-apa ya tidur disini? "
Aminah kembali bersuara. 
" Kenapa emangnya bi? Bibi kan tahu sendiri affi suka kamar rapih kayak gini, tenang aja. "
" Alhamdulillah, kalo gitu. Sini, biar bibi masukin baju aden ke lemari "
" Biar affi aja bi, nanti "
Raffi merebahkan dirinya dikasur beralaskan ranjang kecil. ia merasa sejuk dan tenang.
Melihat itu, Aminah tersenyum. 
Anak asuhnya kini sudah tumbuh besar dan sangat tampan, ia tidak menyangka kalau raffi masih mengingatnya. 
Padahal sudah lama sekali mereka tidak bertemu. 
" Sekarang umurnya aden berapa tahun? Bibi gak inget " 
Aminah duduk ditepi ranjang. 
" 23 bi "
" Dulu, bibi pulang kesini waktu aden umurnya masih 15 tahun. Udah lama pisan nya den "
" 7 tahun yang lalu, Affi seneng banget masih bisa ketemu sama bibi. Bibi gak berubah sih masih aja kayak dulu " 
" Alhamdulillah den, bibi juga seneng " 
Aminah tersenyum tulus " Oh iya, sekarang aden kerja atau gimana ini? " 
" Affi masih kuliah bi "
Aminah mengangguk 
" Si kakak, mama sama papa aden gimana kabarnya den? " 
" Alhamdulillah kabarnya baik bi, tapi yaa bibi tau sendiri mereka selalu sibuk " 
" Kakak nya aden udah kerja? "
Aminah mengalihkan pembicaraan. 
" Si kakak jadi dosen bi " 
" Masyaallah den, hebat nya.. " 
" Yaa gitulah bi " 
Entah kenapa ia merasa malas membahas perihal kakaknya. 
" Den.. " 
Aminah memegang bahu raffi dengan ragu. 
" Apa bi? "
Sahut raffi, ia tersenyum tampan. 
" Ini rencananya, bibi mau pergi hari ini "
Aminah mengatakannya dengan ragu. 
" Lha terus? "
Raffi langsung mendudukkan dirinya, menatap aminah dengan kedua alis bertaut. 
" Aden gak apa-apa bibi tinggal? Tapi nanti disini ada anak bibi kok den, jadi aden gak sendirian " 
Aminah merasa tidak enak hati. 
" Yaah.. Tau gitu, affi gak usah kesini bi "
Raffi mendesah pelan, sedikit kecewa. 
" Bibi minta maaf den, tapi gak apa-apa ya? Soalnya bibi dipanggil kesana buat masak den, gak enak kalo sampe gak dateng " 
" Kenapa bibi gak bilang dari kemarin? "
Raffi mengerling 
" Bibi gak enak den, lagian aden bilang udah siap-siap mau liburan kesini " 
Raffi berpikir sejenak, kemudian mengangguk pasrah. Ia tidak mungkin melarang Aminah untuk tidak pergi. 
" Ya udah deh gak apa-apa bi, tapi bibi pulangnya kapan nih? "
" Mungkin bibi disana 2 hari den " 
" Aah lama bi, masa iya affi cuma berdua disini sama anak bibi? Jam segini aja belum pulang " 
" Nanti jam 5 dia pulang den, soalnya kalo jum'at ikutan latihan marawisan dulu " 
" Masih 3 jam lagi, kapan bibi berangkat? "
" Ini bibi udah siap-siap den "
Raffi mendengus, memang mantan pengasuhnya itu terlihat rapi sekali. 
" Mau affi anterin gak? "
Tawarnya. 
" Jangan den, aden kan capek. Bibi naik angkot kesana nya, lagian nanti aden malah nyasar lagi "
Aminah beranjak dari duduknya, ia tersenyum simpul karena raffi mengerti dan tidak menahannya untuk pergi. 
Raffi kembali mendesah pelan, mengangguk. Membenarkan ucapan mantan pengasuhnya itu. 
" Kalo aden laper, didapur ada telur sama mie instan. Kalo aden mau, minta dimasakin sama anaknya bibi. Kalo gak mau, bisa beli di warung sebrang "
Aminah melangkah keluar dari dalam kamar di ikuti Raffi. 
" Dia bisa masak gak bi? "
" Bisa den, masak apa aja bisa. Aden gak usah khawatir " 
Aminah tersenyum, karena ia sangat tahu. Raffi lebih suka masakan rumahan. 
" Ya udah deh bi "

Raffi mengantar Aminah sampai ke depan pintu, setelah aminah mengambil sebuah Tas didalam kamar. 
" Assalamu'alaikum "
" Waalaikumsalam " 
Sahutnya disertai senyuman menawan. 
Setelah kepergian pengasuhnya, raffi menutup pintu. Ia kembali mengedarkan pandangannya, melihat-lihat rumah pengasuhnya itu dengan leluasa. 
" Kamar mandi dimana? "
Gumamnya pelan, ia melangkah menuju dapur. 
Sebelum itu, dirinya menatap ke samping pada sebuah pintu yang bertuliskan
YA-YA 
" Yaya? " 

Raffi mendekat, entah kenapa ia merasa penasaran .
Ceklek-ceklek
Raffi mengerling ketika pintu itu ternyata dikunci, dia kembali melangkah menuju kamar nya. 
*** 

" Ya! Yaya " 
Seorang gadis mungil berseragam SMA baru saja turun dari angkutan umum, mengalihkan pandangannya. 
Ia membenarkan letak kerudungnya sesaat sembari menunggu seseorang yang mememanggilnya itu mendekat. 
" Assalamu'alaikum " 
Lelaki itu tersenyum setelah sampai dihadapan gadis mungil yang tengah menatapnya. 
" Waalaikumsalam "
Sahutnya lembut
" Ada apa a? " 
Tanya nya sopan, wajahnya bersemu ketika lelaki itu tersenyum padanya. 
" Ini undangan pengajian dari kampung sebelah " 
Lelaki itu menyerahkan sebuah undangan pada gadis itu. 
" Acara apa ini a? " 
Alisnya berkerut, bingung. 
" Wisuda pengajian neng, dateng nya? Nanti aa jemput setengah 7 " 
" Insya'allah.. Makasih ya a " 
Gadis itu menunduk, pipi nya terasa menghangat saat lelaki itu mengatakan akan menjemputnya. 
" Sama-sama, sana pulang. Udah mau ujan "
Katanya, masih dengan senyuman tipis yang begitu menawan. 
" Iya, Assalamu'alaikum "
Gadis itu tersenyum malu, memegang undangan itu dengan erat. 
Lelaki itu mengangguk. 
" Waalaikumsalam "
Gadis mungil itu melangkahkan kaki nya dengan pelan. Tangannya menyentuh dadanya sendiri yang terasa berdebar-debar. 
" Ya allah.. Kaseep " 

Cerita Cinta Romantis Tentang Kita 

Gemasnya setelah merasa cukup jauh dari lelaki yang baru saja ditemuinya itu. 
Senyumnya terukir jelas, setelah itu menguar begitu saja ketika melihat sebuah motor terparkir dihalaman rumahnya. 

Dahinya berkerut heran. 
" Motor siapa nya? " 
Gumamnya sembari melangkah mendekat ke daun pintu. 
" Assalamu'alaikum " 
Ucapnya setelah membuka pintu dan masuk kedalam, ia tahu ibu nya tidak ada dirumah. 
Ia mengedarkan pandangannya, setelah itu melangkah menuju kamarnya. 
Perlahan, ia membuka seragam beserta baju dalam yang dipakainya, menggantinya dengan handuk. ia berniat untuk segera mandi karena hari sudah semakin sore. 
Aktifitasnya disekolah begitu padat membuat tubuhnya lengket karena keringat. Ia bersenandung kecil, melangkah dan memasuki kamar mandi. 
Tepat setelah ia berbalik, matanya terbelalak. Dihadapannya kini berdiri seorang lelaki yang tengah bertelanjang, tubuhnya dipenuhi busa sabun. Jelas sekali kalau lelaki itu sedang mandi. 

" AAAAAKKKHHH! " 
Sontak ia menjerit kaget, dengan kecepatan kilat gadis itu menutup wajahnya. Membuka pintu kamar mandi dan keluar. Kembali menuju kamarnya. 
" Siapa tadi? "
Raffi mengerjapkan matanya bingung saat mendengar jeritan seseorang. 
" Siapa itu? Kenapa bisa ada disini? " 
Gadis itu memekik tertahan, ia merasa begitu kaget dengan kehadiran seorang lelaki didalam kamar mandinya. Apalagi ia sempat melihat kepunyaan lelaki itu. 
" Ya allah.. Mata yaya ternodaiii "
Pekiknya frustasi, dengan sigap ia kembali mengenakan baju nya. 
Ia merasa harus memastikan siapa lelaki yang ada dikamar mandinya. 
" Jangan-jangan maling? Maling numpang mandi? "
Matanya melotot, membenarkan perkataan tidak masuk akal nya. 
Gadis itu mengendap-endap kembali menuju kamar mandi dengan membawa payung untuk senjata nya. 
" Haaa! " 
Gadis itu mengarahkan payungnya kedepan, satu tangannya dipakai untuk menutup wajah. 
Hening ..
ia mengerjapkan matanya ketika tidak melihat siapapun didalam kamar mandi. 
" Lho? Kok gak ada? " 
Gumamnya heran. 
Ia mengedarkan pandangannya dengan bingung, padahal jelas sekali kalau dia melihat seorang lelaki didalam kamar mandi. 
" Jangan-jangan hantu? " 
Seketika bulu kuduknya meremang, ia bergidik ngeri. Melangkah mundur dengan was-was. 
" Ekhem! " 
Gadis itu terlonjak kaget dan langsung berbalik, matanya kembali terbelalak, dan sialnya dia terpeleset. 
" Aakh! " 
" Hhkk! "

Dengan sigap raffi langsung menahan tubuh gadis didepannya. 
Seketika itu, tatapannya terpaku. 
Keduanya terdiam dalam keterkejutan. 
Sampai akhirnya gadis itu tersadar. 

" Aaakkh! Maling! Maling! " 
Gadis itu menggunakan senjatanya, memukul lelaki yang kini meyangga tubuhnya. 
" Aw! Aw! Stop! Gue bukan maling! "
" Kamu kenapa bisa ada disini! Masuk kerumah orang seenaknya! "
Gadis itu memekik dan terus memukul-mukul raffi dengan payung yang dipegangnya. 
" Aw! Apaan sih! Sakit! Gue raffi! Udah jangan mukulin gue! Gue bukan maling! " 
Raffi mendelik dan berteriak kesal, tangannya terasa sakit karena gadis itu terus memukulinya.
" Disini gak ada yang namanya raffi! Jangan bohong kamu ya! "
" Aduuh! Sakit woy! "
Raffi menggeram, kesabarannya sudah habis. Ia memegang payung itu dengan erat. 
" Lepasin! Lepasin! "
Gadis itu meronta-ronta karena lelaki yang dihapannya kini memegang ujung payungnya, menghentikan serangannya. 
" Gue raffi, anak asuhnya bibi Aminah! "
Gadis terdiam dan mengerjap pelan, mencerna ucapan lelaki yang ada didepannya ini. ia memperhatikan wajah lelaki yang kini dihadapannya dengan was-was. Apa benar ia lelaki yang diceritakan ibu nya? Tatapannya penuh selidik. 
Raffi mengerling, ia yakin sekali kalau gadis didepannya ini sudah mulai tau, atau mungkin ingat. Entahlah ia tidak ingin membahasnya. 

" Aaakh! "
Mata raffi terbelalak, tepat setelah ia melepaskan ujung payung yang dipegangnya, gadis itu menjengkang jatuh. 
" Aduuh! Sakit! Dasar gilaaaa! " 
Gadis itu melotot kesal, melempar payungnya ke arah lelaki yang sudah membuatnya terjatuh itu. 
" Yaa maaf, lagian salah lo sendiri! "
Gadis itu meringis pelan, mencoba untuk berdiri. 
" Sini gue bantuin! "
Tawar raffi. 
" Gak usah! " 
Gadis itu menepis kasar tangan raffi, bokongnya terasa sakit. 
Melihat itu raffi hanya mendesah pelan. 
Ia mengikuti langkah gadis didepannya. 
" Lo siapa? "
Tanya raffi. 
" Aku anaknya ibu " 
Sahut gadis itu ketus. 
Raffi mengerjapkan matanya, menyusul langkah gadis didepannya. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya. 
" Lo Maya? "
Tanya raffi memastikan. 
" Iya! Kenapa? "
" O-oh, lo sekolah dimana? Kelas berapa? SMP Kan? "
Maya, gadis itu mengerling. Lelaki didepannya ini sok tahu ternyata. 
" SMA, Kelas 3 " 
Jawabnya singkat. 
Mata raffi membulat seakan tak percaya. 
" Hah? SMa? Serius lo! "
" Iyalah! Emangnya kenapa? " 
" Lo belum pantes jadi anak SMA! "
Mata yaya melotot kaget, lelaki ini benar-benar! Dengan kesal ia menginjak kaki raffi. 
" AAARRGHH! "
Raffi berjingjit, memegang kakinya yang terasa sakit. 
" Rasain! "
Yaya mendengus meninggalkan raffi yang terlihat kesakitan. 
*** 

Cerita Cinta Romantis Tentang Kita 

Raffi mengusap perutnya sendiri, ia merasa lapar. Ditambah lagi ini sudah hampir waktunya makan malam. 
Kenapa gadis itu tidak menyuruhnya makan? Atau membuatkannya makanan? 
Ia mendesah pelan, rasa sakit dikakinya berangsur-angsur hilang setelah beberapa jam. 
Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya, tatapannya teralih pada gadis yang juga baru keluar dari kamarnya. 
Dahi raffi berkerut, gadis itu sudah sangat rapi dan terlihat cantik? 
" Maya " 
Gadis itu tersentak ketika raffi menghampirinya dengan langkah terpincang-pincang. 
Ada perasaan sedikit rasa bersalah dalam hatinya, ia meringis pelan. Apa tadi ia menginjaknya terlalu keras? 
" Mau kemana? "
Tanya raffi ketika maya tidak menyahut. 
" Aku.. Aku mau hadiran "
" Hadiran? "
Dahi raffi berkerut tidak mengerti. 
" Iya, hadiran. Ke-kenapa? "
" Hadiran itu apa? "
Maya melongo mendengar pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut raffi. 
" Masa hadiran aja gak tau! "
Yaya mendelik heran. 
" Kalo gitu gue harus ikut "
" Hah? Jangan lah! Ngapain kamu ikut! "
Sembur yaya, ia tidak ingin lelaki ini menganggu moment nya bersama sang pujaan hati. 
" Ya biar tau lah "
Raffi mengerling. 
" Gak! Kamu dirumah aja. Lagian aku gak bakalan lama "
" Lo mau ninggalin gue sendiri? "
Tanya raffi menuntut. 
" Iyalah, Emangnya kenapa? Takut? "
Yaya menatap remeh kearah raffi. 
" Lo mau biarin gue mati kelaperan? "
" Astagfirullah'aladzim! " 
Yaya menepuk jidatnya sendiri, ia lupa memberi makan raffi. 
Melihat itu raffi mendelik. 
" Gue laper, masakin gue sesuatu kek. Baru deh lo boleh pergi " 
" Tapi kan yaya udah rapi! Nanti berantakan lagi! "
Protesnya kesal
" Gue gak peduli! "
Yaya melirik jam sekilas, masih pukul 18:16. Dia masih punya waktu 14 menit lagi. 
" Ya udah! Mau makan apa? "
Tanya nya ketus. 
" Gw pengen nasi goreng "
Dengan segera, yaya melangkah lebar menuju dapur. Raffi mengikutinya dibelakang. 
Raffi duduk dimeja makan, sesekali ia memperhatikan yaya yang sibuk membuatkan nasi goreng untuknya. 
Setelah beberapa menit menunggu, yaya tersenyum karena akhirnya nasi goreng buatannya sudah jadi. 
" Nih.. "
" Enak gak? "
Tanya raffi, yaya mendengus. 
" Ya cobain dulu atuh! "
Gerutunya. Raffi mengangguk menyendok nasi goreng sederhana yang dibuatkan yaya untuknya. 
Senyumannya mengembang, Nasi goreng buatan yaya terasa enak. 
Melihat itu, yaya tersenyum bangga. Masakan apapun yang dibuatnya selalu enak. 
" Udah yaa, kalo gitu yaya pergi dulu "
Katanya, sembari mencuci tangan. 
" Yaa " 
" Kalo mau tidur, kunci pintunya "
" Hmm.. "
" Jangan lupa! Motor masukin kedalem "
" Iyaa bawel! "
Raffi mendengus kesal karena yaya terus saja mengajaknya berbicara saat iya hendak menyuapkan nasi goreng itu kedalam mulutnya.
*** 
" Hujan neng " 
Kata seorang lelaki yang kini tengah bersama yaya. 
" Iya a, gimanadong pulangnya " 
Yaya mendesah pelan, menatap rintikan hujan yang kian deras. 
" Tunggu bentar ya, aa pinjem mantel dulu "
" Iya a "
Yaya tersenyum memperhatikan kepergian seorang lelaki yang begitu dikagumi nya. 
Setiap kali berdekatan dengannya, hati yaya selalu berdebar-debar. 
Tidak lama kemudian lelaki itu datang kembali menghampiri yaya. 
" Ini neng, pake mantel nya "
Lelaki itu tersenyum lembut, menyodorkan sebuah jas hujan berwarna biru. 
" Kok cuma satu a? " 
Alis yaya bertaut bingung. 
" Gak ada lagi, udah yaya aja yang pake "
" Terus aa gimana? "
" Aa kan pake helm, udah.. Pake aja "
Yaya tersenyum, ia mengangguk dan memakai mantel itu. hatinya terasa berbunga-bunga karena lelaki itu begitu perhatian padanya. 
" Pegangan ya, Licin soalnya " 
" Iya a " 
Sahut yaya dengan wajah yang bersemu. 
Dengan ragu, yaya memegang jaket lelaki itu dengan erat. 
" Udah? " 
Tanya lelaki itu ketika yaya menaiki motornya. 
" Udah a "
Tanpa yaya sadari, lelaki itu tersenyum simpul. 
Menyentuh tangan yaya yang memegang jaketnya, memindahkannya kedepan. 
Mata yaya mengerjap pelan. Lidahnya terasa kelu dengan debaran jantung yang membuatnya merasa panas dingin. 
" A.. " 
" Biar gak jatuh neng "
Sahut lelaki itu, yaya terdiam kaku. 
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka suara, wajah yaya bersemu saat melihat tangannya melingkar diperut lelaki itu. Yaya merasakan desiran yang begitu menggebu-gebu didalam hatinya, ia merasa senang diperlakukan seperti itu. Ia tidak ingin ini cepat berlalu. 
" Udah nyampe neng.. "
Lelaki itu membuyarkan lamunan yaya, membuat yaya mengerjap dan mengedarkan pandangannya. 
" O-oh iya hehe.. "
Yaya tersenyum malu, turun dari motor lelaki itu. 
" Aa ini mantelnya "
Kata yaya setelah membuka mantel itu. 
" Jemur aja disana neng, lagian udah deket "
" O-oh.. Tapi yaya gak sampe a "
Lelaki itu tersenyum mendekati yaya, membantunya menjemur mantel itu disebuah tali. 
" Maaf ya a "
" Gak apa-apa, ya udah kalo gitu aa pulang ya "
" Iya a, hati-hati "
" Deket yaa "
Yaya terkekeh geli begitupula dengan lelaki itu. 
" Aa "
Lelaki itu kembali menoleh kearah yaya 
" Apa neng? "
Tanya nya setelah menaiki motornya kembali. 
" Makasih yaa "
Yaya merasakan pipinya terasa panas. 
Lelaki itu tersenyum simpul. " Sama-sama, Assalamu'alaikum " jawabnya sembari berpamitan. 
" Waalaikumsalam "
Yaya menatap kepergian lelaki itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hatinya terasa berbunga-bunga. Ia memegang dadanya yang terasa berdebar-debar. 
" Ya allaah.. Semoga.. Yaya jodoh sama aa ilham " 
Mata yaya terlihat berbinar-binar saat mengatakannya. " Aamiiinnn.. " Yaya kembali memekik gemas, mengaminkan do'anya sendiri. tanpa menyadari sedari tadi ada yang memperhatikannya disudut jendela, bahkan mendengar do'a yaya yang terdengar konyol itu. 
" Dasar Bocah! " 
Dengusnya pelan, bibirnya menyibik sebal. 
Yaya menatap kesekeliling arah, ketika ia hendak membuka pintu. Pintu itu lebih dulu terbuka menampilkan sosok lelaki tampan dengan tatapan datarnya. " Baru pulang lo? " tanyanya sembari melirik jam, pukul 21:45 
" Awas.. Yaya mau masuk " 
Yaya mendengus, kehadiran raffi membuat moodnya hancur seketika. 
Raffi menggeser tubuhnya, membiarkan yaya masuk kemudian mengunci pintu. 
" Kenapa liat-liat? "
" Hadiran itu maksud lo ngedate? " 
Tanya raffi lagi, ia terus mengekori yaya sampai duduk dikursi. 
" Hah? Bukanlah emangnya kamu ini dari planet mana? Masa hadiran aja gak tau! "
Yaya mendelik heran. 
" Gue kan tinggal dikota, Lo dikampung. Planetnya sih sama "
Yaya berdecak, raffi terkesan sombong. 
" Lho? Emang kenyataanya gitu " 
Kata raffi lagi, seolah tau apa yang ada dipikiran yaya. 
Yaya mengerling, menghela nafas menatap raffi. " Hadiran itu, dateng keacara pengajian " 
Raffi mengangguk tanda mengerti. 
" Itu pacar lo? " tanya nya penasaran. 
Alis yaya menaut bingung. 
" Yang mana? "
" Yang mana? Waah ternyata lo playgirl ya " Tuduhnya. 
Yaya melotot kaget mendengar perkatan raffi. " Kamu ini sembarangan! Playgirl apanya! Jangan sok tau! "
Pekiknya kesal. 
" Tapi lo bilang yang mana, berarti ada banyak dong.. "
" Aduuh, udah ah! Yaya pusing! "
Yaya beranjak meninggalkan raffi yang terheran-heran. 
" Dasar cewek aneh! "
Yaya mendengus mendengar gerutuan raffi. Ia merasa kesal, kenapa ibu nya malah mengizinkan anak asuhnya tinggal disini. 
Ditambah lagi, raffi benar-benar menyebalkan dan sok tahu, ditambah lagi ia merasa malu karena sempat melihatnya telanjang. 
" Iiihh keseeell! " 
Pekik yaya didalam kamarnya. 
" Playgirl? Apanya yang playgirl! Pacar aja gak punya, masa dibilang playgil? Dasar geloo! " 
Yaya menggerutu, menatap pintu seoalah itu adalah raffi. 
Sedangkan raffi mengedikkan bahu nya, ia tidak peduli dengan pekikan yaya dan mamainkan game diponselnya.
Hujan begitu deras disertai suara gemuruh petir yang saling bersahutan. 
Tiba-tiba saja lampu padam. 
" AAAAKKKHH! IBUUUU "
Yaya menjerit didalam kamar membuat raffi tersentak. 
" Yayaa! "
" IBUU YAYA TAKUT! "
Raffi menyalakan senter digawainya, melangkah dengan hati-hati kearah kamar yaya. 
Ceklek 
Pintu itu terbuka, seketika itu raffi tersentak karena yaya berhambur kedalam pelukannya. 
Ponselnya terlempar entah kemana. Membuatnya terdiam, ia dapat merasakan tubuh yaya gemetar. Yaya menangis ketakutan. 
" Ya? " 
" Yaya takut hikss.. "
Raffi terdiam kaku, entah kenapa jantungnya terasa berdebar-debar. 
" Ssshhtt.. Udah gak usah nangis "
Kata raffi pelan, mencoba untuk menenangkan yaya. 
Ia merasa bingung karena tidak tahu bagaimana caranya menenangkan seseorang, dengan pelan ia mencoba untuk mengusap punggung yaya. 
Seketika itu, matanya membulat sempurna
Jantungnya terasa semakin berdebar-debar. 
Lidahnya kelu, tubuh raffi menengang. 
Yaya memeluknya tanpa mengenakan baju? Yang benar saja! 
Tiba-tiba suara gemuruh petir membuat keduanya terlonjak .
" Aaakhh! "
Yaya kembali menjerit, ia semakin mengeratkan pelukannya, yaya mengalungkan tangannya dilleher raffi, membuat raffi refleks memeluk tubuh yaya. 
Nafasnya tercekat, entah kenapa ada perasaan nyaman didalam hatinya. 
Dapat ia rasakan tonjolan dada yaya beradu dengan dadanya. Membuatnya merasakan desiran halus, entah apa. 
Mereka terdiam dalam keheningan, nafas yaya terasa memburu. Ia sangat takut gelap. 
Raffi merasa pegal karena terus berdiri, perlahan ia melangkah dengan hati-hati 
Pelukan yaya semakin mencekik lehernya, membuatnya susah bernafas. 
Tiba-tiba kakinya tersandung membuat raffi limbung. Yaya memekik tertahan. 
BRUK! 
" Hhk " 
Mereka terjatuh tepat diatas kasur. 
Raffi menelan ludahnya sendiri, karena posisinya sekarang berada diatas yaya. 
Tatapannya terpaku, seolah terhipnotis dengan mata bening yaya yang terlihat diremang-remang kegelapan. Ia mengalihkan pandangannya pada bibir yaya yang kini berada tepat dibawah bibirnya. 
Yaya merasakan darahnya berdesir, entah apa yang ia rasakan kini. Ia sama sekali tidak mengerti. 
Perlahan raffi menutup matanya.
Membiarkan nalurinya menguasai. 
Mata yaya terbelalak ketika sebuah bibir mendarat tepat diatas bibirnya, nafasnya tercekat. 
Tubuh yaya menegang, ketika bibir itu menyapu lembut bibirnya. Memberikan sensasi aneh yang baru pertamakali ia rasakan. 
" Mmmhh " 
Yaya melenguh pelan, seperti tersengat aliran listrik. Perutnya terasa mulas. Mencelos tidak karuan. 
Yaya menggeliat pelan, menyadarkan dirinya sendiri dengan apa yang dia rasakan. Logika nya seperti menghilang entah kemana. 
Lampu kembali menyala membuat yaya terdiam kaku, keduanya terbelalak kaget dengan bibir yang masih saling menempel. 
Bunyi kecipak terdengar jelas ketika raffi mendongkak, dihadapannya terlihat jelas tubuh yayaa yang hanya mengenakan BH Dan Underwere. 
" AAAAAKKKKHH! "
Yaya kembali menjerit setelah sadar dengan apa yang terjadi. 
Ia menendang tubuh raffi sampai membuatnya terjungkal. 
" Aawwh! "
Raffi meringis karena tubuhnya mendarat dilantai. 
" PERGI! PERGIIII! "
Teriaknya ketakutan. 
Yaya meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Kemudian melempari raffi dengan bantal dan apapun yang ada didekatnya. 
" Aakh! " 
Raffi memekik, keningnya terkena lemparan yaya. 
Dengan segera ia merayap keluar dari kamar yaya dan menutup pintunya. 
Setelah berhasil keluar, raffi mendesah lega.
" Sshh.. " 
Raffi meringis memegang dahinya yang terasa berdenyut perih.
Seketika itu matanya terbelalak, keningnya berdarah. 
-

0 Response to "Cerita Cinta Romantis Tentang Kita "

Post a Comment

Subscribe