Cerita Cinta Berjudul I Love You Part 2

Post a Comment

Cerita Cinta Berjudul I Love You

 

I LOVE YOU


"Aaaaa! Keren bangeet gilaaa!"

"Suami gueee!" 

"Aaaaa!" 

Apa-apaan ini? Kenapa ramai sekali?

Teman-temanku bersorak norak di pinggir lapangan. Huh! Berisik, dasar lebay.

"Mimiin!" 

Aku menghampiri mimin yang juga sedang berteriak kegirangan. 

"Mimin!"

"Jah! Jah! Guru barunya ganteng banget jaah!"

Seru mimin bersemangat.

"Manasih?" Karena penasaran aku menaiki bangku yang di duduki Mimin. "Yang mana?" 

"Itu jaah! Liat jaaahh ganteng bangeet calon suami gueee!" teriak mimin

"Aduuh! Gak keliatan!"

Sahutku.

Mimin berdecak kesal. "Liat kesanaaa bukan ke si Mamat!" tunjuknya.

Aku mendengus pelan, memperhatikan Guru baru yang belum terlihat wajahnya itu. Tatapanku teralih pada Mamat yang sedang menggiring Bola. Wajahnya penuh keringat membuat ia terlihat berkilau saat terkena cahaya matahari.

Cerita Cinta 

"MAMAAAAT!" 

"MAMAT GO! MAMAT GO!"

Teriakku penuh semangat.

"Huuuu berisik dijah!" 

Aku tak peduli dengan teman-teman yang mendelik kesal mendengar suara cemprengku. Yang penting saat ini aku bisa menyemangati mamat. 

"Yaaakk! Mamat kereeen!"

Teriakku saat mamat menendang bola namun tak masuk gawang. 

"Keren apanya! Si mamat kalah dijah!"

"Huu dasar dijah kuning!"

Tak peduli kalah atau menang, bagiku mamat tetap yang terkeren!

PRIIITT!

"Pemanasan selesai, berbaris di lapangan sekarang!" 

Tak menunggu lama, aku dan teman-teman segera berbaris. Namun, semua siswi memilih untuk berdiri dibarisan depan agar lebih dekat dengan guru baru itu. karena takut terdorong jatuh aku segera menjauh ke barisan belakang.

"Gue disini!"

"Gue! Awas!"

"Minggir dijah!"

"Gue duluan apaan sih!"

"Minggir!"

Mimin juga ikut berebut barisan depan, ckckck akhirnya di sekolah ini ada Guru tampan yang selalu Mimin harapkan.

PRIIIITT! 

"BERBARIS DENGAN BENAR!" 

"Huuuu!"

Semua siswa bersorak kecuali mamat, ia tampak tak memperdulikan tingkah siswi-siswi yang mencari perhatian kepada guru baru itu. 

Diam-diam aku mengeluarkan ponsel dan memotret mamat, hehe. 

"Dijah?"

"Ehe Mamat tadi keren banget."

Ucapku tanpa sadar, mamat mengerutkan keningnya heran. "A-anu, main bola nya maksudnya." Ralatku.

"Gue kalah jah."

"Gapapa kok, tetep ker- Eh, namanya juga pemanasaran jangan terlalu serius hehe." aku menggaruk kepala yang tak terasa gatal. Mulutku memang terkadang tak bisa di ajak berkompromi. 

"Iya jah, itu minuman buat gue?"

"Hah?"

Aku melirik botol air yang berada di genggaman tanganku. "Mamat haus?"

Ia mengangguk. Tanpa menunggu lama aku memberikan botol berisi air itu pada Mamat.

Pemandangan Indah! 

"Makasih jah."

Ucapnya seraya memberikan kembali botol air itu padaku.

Senyumku mengembang. Mamat benar-benar sangat keren dilihat dari jarak sedekat ini. Andai aja aku bisa lebih dekat lagi dengan mamat. Dekat tanpa jarak hehe membayangkannya saja hatiku berdebar-debar.

"Siti Khodijah." 

Samar-samar aku mendengar namaku di panggil. Namun, aku tak terlalu peduli. 

"Siti Khodijah?" 

"Jah! Dijah!" 

"Buset tu bocah kenapa?"

"Ngehalu pasti." 

Halu?

Seketika itu kesadaranku kembali.

Aku terperanjat kaget saat Guru baru itu melotot tajam menghampiriku.

"Kamu tidak memperhatikan saya?"

Tanya nya.

Memangnya apa yang guru baru itu bicarakan? Gara-gara memandang Mamat aku jadi tak memperhatikannya. "A-"

"Huuuuu!"

Sorak teman-teman membuatku semakin mati kutu. Mamat menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Senyum mamat indah hehe

Cerita Cinta Berjudul I Love You

"Silahkan mengelilingi lapangan 3 putaran."

"T-tapi pak-"

"Baik, 5 Putaran. Sekarang!"

Tegasnya. 

Percuma protes, hukuman akan bertambah. Dengan berat hati aku melangkah mengelilingi lapangan.

Aku Benci berlari! 

Baru satu putaran saja nafasku terasa habis.

"Ya allah, Badan dijah berat banget sih."

Keluhku seraya berhenti berlari dan mengatur nafas.

Dari kejauhan aku melihat guru baru itu mengabsen satu persatu teman-teman sekelasku. Kesempatan tak boleh di sia-siakan. Aku berhenti berlari dan duduk di pembatas lapangan.

Baru masuk saja ia sudah menjadi idola siswi-siswi di sekolah. Memang tampan, tapi aku tak peduli. Bagiku mamat adalah yang paling tampan.

"Siapa yang menyuruh kamu duduk disini?"

Hampir saja jantungku Meloncat keluar dari tempatnya. Sejak kapan Guru baru itu bergerak menghampiri ku?

Aku menelan ludah gugup."M-maaf pak, Dijah-"

"Bersihkan Toilet sepulang sekolah!"

"Aaaa! Ampun pak! Jangan- jangan. Dijah gak mau!" Pekikku tak terima.

"Silahkan kembali kedalam kelas."

Sial!

Ini adalah hari tersial sepanjang sekolah!

Aku mendengus pelan sebelum melangkah mendahului guru baru itu.

Sesampainya di kelas, teman-teman bersorak girang. Mengejek dan mencibir kelakuanku.

"Gimana jah? Dapet hukuman apa?" 

Tanya Mimin mewakili teman-teman sekelasku.

"Ck, Mimin berisik!"

Dengusku kesal.

Ia tertawa girang. Tawa yang biasanya. Namun hari ini terkesan menyebalkan.

★★☆★★

"Frist time Si Dijah kuning di Hukum."

"Hahaha kenapa?"

"Biasaa ngehalu dia."

"Hahaha"

"Hahaha"

Kupingku terasa panas, ingin rasanya aku melempar ember berisi air pada teman-teman sekelasku itu.

"Jah, gue balik duluan ya."

Pamit mimin seraya memakai tas gendongnya.

"Mimin gak ada niatan nemenin dijah?"

Tanyaku.

"Aduh jah, gabisaa. Sorry, gue ada urusan."

Huh? Urusan. Urusan apa?

Aku tahu mimin paling anti dengan yang namanya bersih-bersih, sekali terkena kotoran kulitnya akan gatal-gatal. 

"Ya udah sana pergi!"

Usirku kesal.

"Semangat dijah!"

Teriaknya seraya tertawa.

"Berisik!"

Teriakku tak kalah kencang.

Mimin tertawa seraya berlari keluar kelas. Aku menggerutu dalam hati, Ibu pasti akan marah jika tahu aku telat pulang karena di hukum. Bagaimana jika ia tak memberiku makan?

Aku keluar kelas kemudian menuju toilet, Disana benar-benar sangat kotor. Apa mereka sengaja? Huh! 

Tak menunggu lama aku segera menggelung baju dan mulai membersihkan toilet itu.

"Dijah, Gue bantuin ya?"

Aku mengerjap pelan, Sejak kapan mamat berdiri disana? Sejak kapan mamat mengikutiku?

"Kok bengong?"

Aku tersentak, itu benar-benar mamat.

"Hah? G-gak usah, Dijah bisa sendiri kok. Nanti kotor lho Mamat nya." Sahutku cepat.

Ada perasaan senang dan bahagia. Mamat selalu saja hadir saat aku merasa kesusahan.

"Gapapa, Udah sana. Dijah bersihin toilet cewek, gue bersihin toilet cowok." Suruhnya.

Mamat benar-benar pahlawan!

Tanpa menunggu lagi, aku segera masuk kedalam toilet siswi dan mulai membersihkannya.

Seketika itu senyumku mengembang, Tak apa-apa di hukum, asal bersama mamat hehe.

"Saya tidak mengizinkan siapapun membantu Dijah." 

Sebuah suara menggema di seluruh penjuru toilet. Aku segera keluar. Di pintu masuk, Guru baru itu berdiri dengan melipat tangan. 

Apa-apaan itu?

"Kamu. Muhammad rahmat, silahkan pulang."

Tegasnya. 

Aku mendengus, Mamat melirikku.

"Tapi pak-"

"Pulang atau nilai kamu saya kurangi."

Tak habis pikir, kenapa guru baru itu bersikap seenaknya?

"Udah mamat pulang aja. Dijah Gapapa kok."

Ucapku menahan kesal.

Mamat mendesah pelan, ia mengangguk kemudian mengambil tasnya.

"Kalo ibu nanyain, jangan bilang dijah di hukum." Bisikku.

"Iya jah, gue duluan ya."

Aku mengangguk pelan.

Guru baru itu memperhatikan gerak-gerik mamat sebelum akhirnya menghilang di balik tembok.

"Kerjakan dengan benar!"

Aku mencibir pelan, sebelum akhirnya masuk kedalam toilet dan membanting pintunya.

"Hei! Memangnya kalau rusak kamu bisa menggangganti!"

"Bodo amat!" Teriakku dalam hati. 

"Maaf pak, gak sengajaaaa."

Sahutku kencang.

-TBC-

Related Posts

Post a Comment