Cerita Cinta Ngeres Berjudul Our Love part 4

Post a Comment
Cerita Cinta Ngeres


Cerita cinta ngeres yang sebenarnya tidak seperti itu tapi tidak kalah serunya. langsung saja baca kisahnya  : Waktu bergulir begitu cepat, tidak terasa kini yaya sudah lulus SMA dengan nilai terbaik. Bahkan dirinya mendapatkan beasiswa untuk masuk kesalah satu Universitas terbaik diJakarta. 

Setelah mengurus surat-surat beserta keperluannya. Hari ini Yaya akan berangkat menuju Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.

" Jaga diri kamu baik-baik nya neng, Telpon ibu kalo kamu udah nyampe disana " 

Yaya mengangguk, airmatanya mengalir begitu saja. Mengingat ia akan meninggalkan ibu nya hari ini. 

" Ibu juga jaga diri baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran. Yaya pasti akan baik-baik aja " 

Yaya tersenyum lembut mengusap airmata ibu nya. 

" Hati-hati nya neng " 

" Iya bu, Assalamu'alaikum "

Yaya menangis, melepaskan genggaman tangan ibu-nya dengan berat hati. 

" Waalaikumsalam " 

Aminah menangis, saat yaya melangkah menjauhinya. 

Yaya menaiki motor ilham kemudian melambaikan tangannya pada ibu dan juga anak-anak itu. Ia menyuruh mereka untuk menemani ibu nya. Agar tidak kesepian. 

" Udah siap neng? " 

Tanya ilham, yaya mengangguk pelan tanpa menjawab. Setelah itu, ilham melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Aminah untuk menuju stasiun bis Kota. 

Hening.. 

Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Ilham sengaja tidak bertanya apapun karna tahu yaya masih menangis dan sesekali menyeka airmatanya. 

Ilham melirik tangan yaya yang memegang erat jaket yang dipakainya. 

Ia memejamkan matanya sejenak, menarik tangan yaya untuk melingkar diperutnya. Membiarkan yaya bersandar dipunggungnya. 

Cerita cinta

Yaya tersenyum getir disela tangisnya. Ia memeluk ilham dengan erat seolah itu adalah pelukan terakhirnya. 

" Neng.. " 

Yaya mengerjap pelan saat merasa ilham menghentikan motornya. Perlahan ia melepaskan pelukannya kemudian mengedarkan pandangan. 

Ini sudah sampai diterminal Bus.

Ia turun dengan berat hati.

" Aa.. " 

Yaya berdiri dihadapan ilham dengan airmata yang sudah kembali mengalir. 

Ilham tersenyum samar. Jika boleh jujur, ia benar-benar tidak ingin jauh dari Yaya. Mengingat akhir-akhir ini mereka sering meluangkan waktu untuk bersama. 

" Aa akan selalu nunggu kamu neng.. Jangan pernah berubah ya " 

Ilham menggenggam tangan yaya dengan erat. Hatinya bergejolak, terasa sesak karena ia akan jauh dari pujaan hatinya. 

" Aa jaga kesehatan ya, yaya janji. Akan jaga diri baik-baik " 

" Aa percaya sama kamu neng " 

Airmata yaya semakin deras mengalir membuat ilham tidak bisa menahan diri. 

Ia menarik yaya kedalam pelukannya, untuk pertamakali nya selama hubungan mereka. 

Yaya tersentak sesaat kemudian membalas pelukan ilham tak kalah erat seolah mengatakan ia tidak ingin berpisah. 

Cerita cinta ngeres

Tak lama, ilham merenggangkan pelukannya. Menatap yaya dari jarak yang sangat dekat. Darahnya berdesir halus. 

" Hati-hati dijalan sayang.. " 

Yaya memejamkan matanya saat wajah ilham mendekat, jantungnya mencelos begitu saja. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berhamburan dari perutnya saat bibir ilham menempel di keningnya. 

" Aa.. "

Yaya terpaku, ia tidak menyangka ilham menciumnya walaupun hanya dikening. 

Selama hubungan mereka, ilham tidak melakukan apapun padanya. Hanya sebatas memegang tangan tidak lebih. 

Ilham tersenyum simpul " Cinta aa tulus buat kamu neng, aa sayang sama kamu. Jangan pernah kecewain aa ya. Aa pegang janji kamu " 

" Iya a.. Yaya janji. Yaya juga sayang pisan sama aa. Yaya cinta sama aa. Nanti kalo yaya udah lulus kuliah, yaya akan tagih janji aa " 

" Yang mana? " 

" Aa kan pernah bilang, kalo aa mau nikahin yaya kalo yaya udah lulus kuliah " 

Ilham tersenyum mengusap airmata yaya kemudian mengangguk " Iya, semoga allah melancarkan niat kita ya neng " 

" Aamiin yaa allah.. " 

Yaya tersenyum manis menatap wajah sang pujaan hati untuk waktu yang sangat lama. Ia pasti akan sangat merindukan ilham.

Ilham nampak tidak bergeming saat yaya mulai melangkah menaiki bus jurusan Jakarta. 

Ia melihat yaya sudah duduk dikursi dan melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum, membalas lambaian tangan gadis yang sangat dicintainya itu. 

cerita cinta our love

Yaya meniup kaca Bus menuliskan sesuatu dikaca dengan teliti. ilham terus memperhatikannya dalam diam. 

* I love you forever Ilham *

Tulisnya dikaca bus, ilham tersenyum. Menggerakkan tangannya untuk membalas tulisan itu. 

Yaya mengangguk, kembali melambaikan tangannya saat bus itu mulai melaju. Meninggalkan terminal. 

Tanpa ilham sadari airmatanya mengalir, ia menangis dalam diam. " Maafin aa neng, aa gak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi aa harap, kita benar-benar bersatu dalam ikatan pernikahan " Gumamnya lirih. Menatap kosong pada jalanan yang kini terlihat sepi. 

Sementara yaya, ia menatap pada jendela bus dimana ia menuliskan bahwa ia mencintai ilham, ia merasa senang karena tahu ilham juga mencintainya. Mengingat akhir-akhir ini mereka sering bersama-sama membuatnya sedikit tidak rela karena harus pergi meninggalkannya. 

" Kita pasti akan kembali bersama " 

Lirihnya dalam hati, ia tersenyum samar kemudian memejamkan matanya. 

***

" Alhamdulillah.. " 

Yaya tersenyum dan mengedarkan pandangannya setelah sampai disalah satu Kost yang pernah ia datangi bersama ilham beberapa hari yang lalu. 

Ia ingat, ilham mencarikan kost untuknya setelah mengurus surat-surat perkuliahannya. Ilham bilang itu semua agar ia tidak susah dan langsung beristirahat setelah sampai dijakarta. 

Kost yang ditempatinya kini juga tidak terlalu jauh dari tempat kuliahnya. 

Setelah mengambil kunci dan melengkapi persyaratannya, Yaya masuk kedalam Kost kemudian menutup dan mengunci pintunya dari dalam. 

Ia bersyukur memiliki ilham yang selalu membimbingnya, menyemangatinya dalam hal apapun. Baginya, ilham adalah lelaki terbaik didunia. 

Yaya mendudukan diri diranjang kecil, mengambil ponselnya kemudian menghubungi ibu nya di kampung. 

*****

*****

Yaya terdiam sejenak didepan gedung tinggi yang hendak dimasuki nya. 

Ia tidak menyangka kalau dirinya berhasil mendapatkan beasiswa itu. 

Ilham benar, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Yaya tersenyum, menyemangati dirinya sendiri. 

Ia harus benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik. 

" Semangat! " 

Ucapnya dalam hati. 

ia melangkah dengan semangat yang begitu menggebu-gebu. 

BRUK! 

" Astagfirullahaladzim! " 

Yaya memekik tertahan saat tubuhnya mendarat dilantai. 

Ia memejamkan matanya sejenak, mencerna apa yang terjadi pada dirinya kemudian beranjak. Matanya membulat sempurna saat melihat begitu banyak orang mengerumuninya. 

cerita cinta penuh makna

" Kalo jalan pake mata! "

Teriak gadis yang kini menatap yaya dengan garang. 

Yaya memejamkan mata " M-maaf teteh, sa-saya gak sengaja " ucapnya ketakutan. 

" Teteh? Ieeeww~ Lo kira gue kakak lo! " 

Hardiknya kasar. 

Yaya ia menunduk dalam, Ini adalah pertamakalinya ia diperlakukan seperti itu. 

" Ada apaan woy? "

Tanya salah seorang gadis membelah kerumunan. Yaya semakin menundukan wajahnya. 

" Mahasiswi baru itu? " 

" Lo tau? " 

" Apasih yang gak gue tau? Dia yang dapetin beasiswa buat masuk ke Universitas ini " 

" Anak kampung kan? " 

" Yo'i " 

Yaya memberanikan diri untuk mendongkak, menatap gadis-gadis yang tengah membicarakannya itu. 

" Ada apa ini? " 

Semua orang menoleh serentak, begitupula dengan yaya. Ia melihat seorang lelaki tidak terlalu tua datang menghampiri membuat para mahasiswa itu berhamburan meninggalkan yaya. 

" Kamu Maya Rahmawati? "

Tanya nya tegas. 

" I-ya pak " 

" Baik, kalau begitu silahkan ikut dengan saya "

" Terimakasih pak " 

Yaya tersenyum mengikuti lelaki yang ia taksir adalah salah satu dosen diUniversitas itu. 

-

" Mahasiswi baru? Jurusan apa? " 

" Mana gue tau, belum liat sih tapi katanya cantik vroh! " 

" Cantikan mana sama si Bella? " 

Seorang gadis menajamkan pendengarannya saat mendengar desas-desus mahasiswa yang membicarakan perihal mahasiswi baru. 

" Tuh? Itu orangnya! " 

Mata gadis itu terbuka kemudian tertuju pada seorang gadis berjilbab putih yang berjalan bersama dosen killer. Ia terperangah dengan jantung yang berdebar keras. " Gak mungkin.. " Ucapnya tanpa suara. 

cerita bikin baper

" Cantikan dia daripada si bella! Gimana kalo kita taruhan? " 

" Widiih edan, belum apa-apa udah ngajakin taruhan " 

" Kenapa emangnya? Gak berani lo? "

BRAK! 

Ketiga lelaki itu terperanjat kaget saat sebuah sepatu hitam terlempar begitu saja diikuti dengan langkah seorang gadis berwajah kusut. Menandakan bahwa ia baru saja terbangun dari tidurnya. 

" Bisa diem gak lo! " 

Bentaknya membuat mereka terdiam. 

" Apa-apaan lo mars! Ganggu aja "

" Lo ganggu tidur gue! "

Teriaknya lantang. 

" Makanya kalo mau tidur itu dirumah! Bukan di kampus! "

Gadis itu mengertakan giginya kesal. Dengan sigap ia menarik kerah baju lelaki yang berani mengatainya itu. " Ngomong apa lo barusan hah! Berani lo sama gue! " 

Tangan gadis itu terangkat keatas hendak meninju lelaki dihadapannya. 

" Sorry.. Sorry mars! gue minta maaf " Lelaki itu memohon sebelum tangan gadis itu mendarat diwajahnya. " Lepasin Mars akh " 

" Sekali lagi gue denger elo-elo pada mau taruhan. Gue patahin leher lo! " 

Ancamnya sembari melepaskan cekalannya. Lelaki itu bergidik takut. 

" Pergi lo! " 

Teriaknya lagi. 

Ketiga lelaki itu langsung kabur, senyum gadis itu terukir jelas penuh kemenangan dengan pandangan meremehkan. 

Ia mengedarkan pandangan keseluruh arah ketika merasa diperhatikan, matanya melotot membuat beberapa orang yang ada diruangan itu langsung menunduk takut. 

Dengan santainya, ia kembali mengenakan sepatu dan berjalan keluar ruangan. 

*** 

Yaya celingukan sendiri saat mencari ruang pelatihan. Ia sudah berkali-kali salah masuk dan tidak ada yang mau mengantarnya keruangan yang dimaksud, ia mendesah pelan berjalan dengan lesu. " Apa orang jakarta teh gak bisa apa saling tolong menolong? " Tanya nya dalam hati, sesekali membaca papan bertuliskan nama ruangan-ruangan yang tertempel dipintu. 

Yaya terperangah saat tubuhnya hampir menabrak tubuh seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. " Ma-maaf teh " Katanya takut Karena gadis dihadapannya itu menatapnya dengan datar dan dingin. 

Gadis yang ada dihadapan yaya kini memperhatikan yaya dari atas sampai bawah. " Lo mahasiwi baru itu? " 

Tanya nya datar.

Yaya memberanikan diri untuk mendongkak, menatap gadis yang berdiri dihadapannya itu " I-iya teh " sahutnya dengan senyuman canggung. 

Beberapa orang memperhatikan mereka dari kejauhan, menunggu apa yang akan dilakukan gadis tinggi dengan gaya swag nya itu. 

" Dari tadi gue perhatiin lo mondar mandir gak jelas, sebenernya lo mau kemana? " 

" S-saya mau keruang pelatihan, tapi-"

" Ikut gue! " 

Yaya tersentak saat gadis itu mencekal lengannya dengan kasar kemudian menyeret langkahnya. 

" T-teh kita mau kemana? L-lepasin tangan saya " 

Ingin rasanya yaya menghilang sekarang juga, ia merasa sangat takut. Tidak ada satu orangpun yang menolongnya. 

Gadis itu terus menyeret langkah yaya tanpa memperdulikan protesannya. 

Sampai langkahnya berhenti didepan sebuah ruangan. 

Nafas yaya terengah-engah menatap kesekelilingnya. Gadis itu melipat tangan membiarkan yaya mengatur nafasnya. 

" Ini ruang pelatihan " 

Katanya datar. 

Yaya mendongkak, membaca tulisan yang menempel dipintu kemudian tersenyum menatap gadis yang sudah menyeretnya kesini. 

" Masya'allah teteh.. Makasih banyak yaa alhamdulillah akhirnya ketemu juga ruangannya hhh " 

" Sebaiknya lo masuk. Dosen udah ada didalem " 

" Teteh makasih sekali lagi, nama teteh siapa kalo boleh tau? " 

" Gue Marsye, lo bisa panggil gue Mars " 

" Teteh Mars, nama saya Maya Rahmawati dipanggilnya yaya " 

" Gue gak suka dipanggil teteh. Lo bisa manggil gue mars " 

" O-oh i-iya atuh. Te- eh Ma-mars " 

Yaya tersenyum manis menatap gadis yang sudah menyeretnya itu. Ternyata niatnya baik sekali. Ia mengantar yaya. 

Marsye tersenyum simpul kemudian berbalik meninggalkan yaya tanpa sepatah kata pun. Yaya menatapnya dengan takjub, ia merasa mendapat teman baru. 

cerita bikin baper

Setelah memperhatikan Marsye, pandangannya teralih pada pintu dihadapannya. RUANG PELATIHAN 

" Bismillahirrohmanirrohim "

Yaya membuka pintu itu dan terpaku saat semua orang menatapnya. 

***** 

*****

" Namanya Maya Rahmawati, satu jurusan sama gue " 

Kata seorang lelaki berambut lurus. 

" Ah.. Gue kira dia masuk jurusan bisnis. Sempet denger tadi pada ngomongin dia. Katanya si Marsye nyeret-nyeret itu cewek "

" Gawat kalo sampe cewek itu deket sama si Marsye " tambahnya lagi. 

" Lha emangnya lo gak liat? Tuh orangnya " 

Kedua lelaki itu menatap lurus pada Marsye dan juga gadis berkerudung putih yang berjalan disampingnya. Mereka mengobrol sesekali tertawa membuat orang-orang yang melihatnya sedikit terkejut. 

Marsye dikenal dengan sikap kasar dan tomboynya. Bahkan tidak ada yang mau berteman dengan marsye selama dia masuk ke Universitas itu karena marsye pernah membuat babak belur seorang lelaki yang mencoba mendekatinya. 

" Gilaa! Si Maya dalam kurungan singa "

Katanya lagi. 

" Singa-singa gitu si Mars cantik " 

Lelaki berambut ikal itu mengerling. 

" Minggir lo! " 

" Di! Mau kemana lo. Tungguin gue! " 

Lelaki berambut ikal itu menyusul temannya yang tiba-tiba saja berlari meninggalkannya. 

" Hey.. " 

Ia tertegun saat temannya menghentikan langkah marsye dan mahasiswi baru itu. 

" Goblok! Cari mati tuh anak! " 

Desisnya. 

Marsye mengerutkan keningnya saat lelaki dihadapanya mengulurkan tangan pada maya.

" Nama gue Pandi. Kenalan dong " 

Katanya dengan senyuman menawan. 

" Saya maya "

Sahut yaya tanpa membalas jabatan tangannya. 

Marsye tersenyum simpul, melihat lelaki itu menarik kembali tangannya. 

" Di! "

Marsye mengalihkan tatapannya pada lelaki berambut ikal yang menghampiri pandi. Seketika tatapannya berubah dingin. 

" Ayo Ya " 

Tanpa menunggu jawaban yaya, marsye kembali menyeretnya untuk melangkah. 

" Ah sialan! Apaan si lo san! "

Pandi menghempaskan rangkulan temannya dengan kesal. 

" Jangan cari mati. Kalo lo mau deketin si Maya, mendingan nanti aja. Kalo dia sendirian dan gak sama si Marsye "

Tegurnya. 

" Bener juga kata lo, hayu lah "

Pandi berjengit melangkah lebar membuat lelaki berambut ikal itu mendesah lega. 

" Jangan sampe lo terjerat sama mereka "

Kata marsye setelah mereka duduk disalah satu bangku kantin.

Yaya menautkan alisnya. 

" Maksudnya gimana? " 

" Lo liat kan? Dua cowok itu. Mereka terkenal playboy. Namanya pandi sama ikhsan. Suka gonta-ganti cewek. Gue gak mau aja kalo lo jadi korban mereka selanjutnya " 

Yaya terdiam mendengarkan penuturan Marsye kemudian tersenyum. " Alhamdulillah, Makasih yaa udah ngasih tau yaya " katanya tulus. Ia merasa bersyukur mempunyai teman seperti Marsye yang terlihat tomboy namun memiliki sisi yang sangat baik. 

Marsye mengangguk, ia tersenyum simpul senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. " Dia mirip sama lo tan " Lirihnya dalam hati. 

Sementara di Meja yang berbeda lelaki bernama ikhsan itu terus memperhatikan gerak-gerik Marsye bersama maya. Mereka terlihat Asik mengobrol tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang terkejut melihatnya tersenyum. 

" Bisa copot mata lo kalo mandangin siMarsye kek gitu! " 

Desis pandi yang ada dihadapannya. 

Ikhsan menghela nafas, mengalihkan tatapannya pada segelas air yang berada digenggamannya. 

" Kalo lo suka sama si Marsye kenapa lo gak nembak dia coba? " 

Tanya pandi dengan tatapan heran, setelah itu ia tertawa " Hahah.. Gue tau! Gue tau pasti lo takut kan? Lo takut si Marsye mukulin lo kek dia mukulin si deni " 

" Gue sama sekali gak takut " 

Sahutnya tanpa menoleh. 

" Halaah alibi lo, gak usah muna. Kalo lo gak takut. Coba tembak dia sekarang " 

Ikhsan terdiam, ada alasan kenapa ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Bukan karena ia takut Marsye akan memukulinya. Alasan itu membuatnya sakit, alasan itu yang membuatnya hanya bisa diam dengar perasaanya yang semakin menggebu-gebu. 

" Tuh kan! Cemen lo! "

" Terserah! "

Pandi menyibikan bibirnya seolah meledek ikhsan. 

***** 

" Hey.. " 

Yaya mengentikan langkahnya saat melihat lelaki berdiri di hadapannya dengan menampilkan senyuman. 

" A-ada apa? " 

Tanya yaya was-was, ia menelan ludahnya sendiri. 

" Lo siapa nya Marsye? "

Tanya nya 

" S-saya? Saya temannya " 

Ikhsan, lelaki menautkan alisnya terkesan bingung " Gue perlu bicara sama lo "

Katanya lagi. 

Mata yaya mengerjap pelan. 

" T-tapi sa-saya - " 

" Yaya! " 

Yaya menoleh seketika itu senyumnya mengembang saat Marsye menghampirinya. Berbeda dengan Ikhsan yang terlihat kaku. 

" Gue nyariin lo, jadi kan pulang bareng? " 

Marsye meraih tangan yaya. 

" I-ya jadi, ayo "

Yaya tersenyum menggenggam tangan Marsye. " Sa-saya duluan ya " katanya pada Ikhsan. 

Ikhsan mengangguk dan menatap nanar kepergian Marsye dan maya. " Sampe kapan sya? " gumamnya dengan tangan mengepal.

-

" Ya.. " 

Yaya menoleh dan tersenyum saat marsye memanggilnya. " Iya, ada apa? " tanya nya lembut. 

" Barusan si Ikhsan bilang apa sama lo? "

Tanya nya ragu. 

" Gak bilang apa-apa, dia cuma nanya aku ini siapa kamu "

Marsye tertegun " O-oh "

Alis yaya menaut bingung melihat ekspresi marsye " Kenapa emangnya? " tanya nya penasaran. 

" Gak apa-apa "

Sahutnya kembali mengalihkan pandangan pada jalanan.

Pikiran Marsye bercamuk, entah kenapa ia merasa seperti melihat sahabatnya dalam tubuh Maya saat pertamakali melihatnya. 

" Tan.. Lo gak marah kan? Kalo gue punya temen baru? " tanyanya dalam hati. 

" Mars? " 

" Apa tan? " 

Sahutnya. 

" Tan? " 

Yaya menautkan alisnya bingung 

" A-ah! Ma-maksud gue may.. Hehe sorry " 

Marsye menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu. 

" Kamu ngelamun? " 

Tanya yaya. 

" E-enggak! Ayo jalan " 

" Tapi kita udah nyampe " 

" Hah? " 

Marsye mengedarkan pandangannya. " Dasar bodoh! " runtuknya dalam hati. 

" Kamu teh kenapa? Ada masalah? "

Tanya yaya khawatir karena sedari tadi teman barunya itu terus saja melamun bahkan tidak mendengarkan celotehannya. 

" Enggak! Gak ada. O-oh jadi lo ngekost disini? " 

Tanya marsye mengalihkan pembicaraan. 

" Iya, kamu mau masuk? "

Tawarnya. 

" Kayaknya g-gue langsung pulang aja deh may. Capek banget soalnya, gak apa-apa kan? " 

" Gak apa-apa kok, makasih ya udah nganterin yaya " 

" Sama-sama, kalo gitu gue balik ya. Ntar gue ajak lo main kerumah gue " 

" Iya.. " 

Marsye langsung melambaikan tangannya, melangkah menjauhi yaya yang juga membalas lambaian tangannya kemudian masuk kedalam gerbang. 

Marsye menghela nafas lega setelah yaya masuk kedalam rumah kost'annya. " Tan.. Dia mirip sama lo, lo pasti liat kan?. Dia jadi temen gue mulai sekarang " gumamnya dalam hati. 

Marsye melangkah dengan santai tanpa memperdulikan orang-orang yang berada disekitarnya sampai ia melewati sebuah gang dan motor yang terparkir disisi jalan. 

Ia mengentikan langkahnya seketika, matanya memicing kemudian membulat sempurna. Dapat ia lihat disana ada seorang lelaki yang sangat dibencinya berjalan kearahnya. 

Nafasnya tercekat saat menoleh kebelakang lelaki itu benar-benar ada, tak jauh darinya. Dan ia yakin kalau lelaki itu sengaja mengikutinya. 

" Sialan! " Umpatnya kasar, langsung melangkah lebar setengah berlari. 

" Tunggu sya! "

Lelaki itu benar-benar mengikutinya dan kini mencekal lengannya membuat marsye dengan sigap menepisnya " Jangan sentuh gue! " Teriaknya dengan tatapan tajam. 

Ia melangkah mundur, mengedarkan pandangan kemudian meruntuk saat tak melihat satu orangpun yang lewat. Ia terjebak berdua dengan lelaki itu. 

" Sya.. " 

Lelaki itu berusaha kembali mendekat. 

" Berenti! Berenti brengsek! "

Marsye kembali berteriak membuat lelaki itu terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan. 

" Sampai kapan lo mau ngehindarin gue? " tanya nya dengan nada parau. Hatinya merasa sesak. Jika dia wanita, mungkin ia akan menangis saat ini juga. 

" Ngehindar? "

Tangan marsye mengepal, tatapannya begitu dingin " Lo emang pantes dihindarin san! "  Desisnya. 

" Berapa kali gue harus jelasin sama lo sya?! " 

" Lo mau jelasin apa lagi hah! Lo udah nyakitin perasaan dia! Lo udah bikin dia mati! " Teriaknya " Lo udah bunuh sahabat gue san! Lo jahat! " Airmatanya mengalir begitu saja. 

" Cukup! Cukup sya! Kenapa lo selalu nyalahin gue hah! Dia bunuh diri karna kemauannya sendiri! Lo gak bisa nyalahin gue gitu aja! " 

" Karna lo penyebabnya! "

Lelaki itu memejamkan matanya sejenak " Oke! Oke kalo lo emang mau terus nyalahin gue. Terserah! " Matanya terbuka, menatap intens gadis yang berada tak jauh darinya itu. " Asal lo tau sya, gue mutusin dia karna lo " tambahnya. 

Marsye menautkan alisnya tidak mengerti " Apa maksud lo! " Tanya nya tetap dengan nada tajam. 

" Gue gak bisa terus-terusan pura-pura kalo gue cinta sama intan, gue gak bisa terus-terusan bohongin perasaan gue sendiri. gue macarin dia cuma pengen buat lo cemburu. Gue gak cinta sama intan karna gue cinta sama lo " 

Marsye terdiam kaku seiring dengan jantungnya yang berdebar terasa menyakitkan. ia menggelengkan kepalanya. Berharap ini hanyalah mimpi. " Lo pikir gue percaya? " 

" Sya.. " 

" Setelah apa yang lo lakuin sama intan, sekarang lo bilang cinta sama gue? " 

Tanya nya dengan nada sinis. 

" Gue bener-bener gak tau kalo akhirnya akan seperti ini! Gue gak tau intan bakalan senekat itu. Gue gak tau! "

Teriaknya frustasi. 

Marsye terdiam dengan tatapan dinginnya, mati-matian ia menahan diri untuk tidak terisak karena airmatanya tidak mau berhenti mengalir. 

Keduanya saling menatap dalam diam. Lelaki itu menatap Marsye, berharap marsye mempercayai perkataannya. 

" Maafin gue sya.. Gue emang brengsek, Gue jahat. Tapi tolong.. Jangan jauhin gue "

Lirihnya dengan nada memohon. 

" Gue gak sudi deket sama orang yang udah bunuh sahabat gue "

" Sya.. " 

" GUE BENCI SAMA LO! GUE BENCI SAMA LO IKHSAN! JANGAN PERNAH DEKETIN GUE LAGI!! " 

" LO PEMBUNUH! LO JAHAT! "

Jeritnya pilu. 

Ikhsan, Lelaki itu hanya bisa terdiam kaku. Hatinya seperti dijatuhi batu besar begitu sangat menyakitkan. 

Ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya itu sangat membencinya.

Related Posts

Post a Comment