Cerita Cinta Yang Negatif terbaru Our Love Part 4

Post a Comment
Cerita Cinta yang Negatif Berjudul Our Love

Cerita Cinta Yang Negatif terbaru Our Love Part 4 Seorang lelaki berdiri dari duduknya saat kedua orang bodyguard nya melaporkan sesuatu yang membuatnya tersentak seketika. " Kenapa kalian bisa sampai lengah hah! " teriaknya.

" Maaf mas, saat itu mas raffi mengatakan akan pergi kerumah temannya, mas raffi tidak ingin kami terus mengikutinya. Kami mengantar mas raffi sampai rumah itu " 

Lelaki itu memejamkan matanya, ia sudah seringkali mendapatkan laporan seperti ini. " Sudah berapa hari raffi pergi? " 

Tanya nya. 

" Tiga hari mas "

" Tiga hari? Kenapa kalian baru melaporkannya sekarang! " 

Teriaknya lagi. 

" Kami sudah menghubungi mas, tapi mas tidak mengangkatnya. Maafkan kami mas, kami sudah mencarinya dengan mengerahkan semua teman-teman kami. Tapi mas raffi belum juga ditemukan " 

Lelaki itu menggeram kesal, Adiknya itu memang sangat susah diatur. Terakhir kali ia melihatnya berboncengan dengan seorang wanita dan bermalam didiskotik.

Cerita Cinta Di Mulai

Itu membuatnya sangat marah, sampai harus mengurungnya dirumah. " Cari raffi sampai dapat! Jangan sampai mama dan papa tahu tentang ini " tegasnya. 

" Iya mas, kami permisi " 

Lelaki itu mengangguk dan kembali duduk. Ia mengacak rambutnya dengan asal. 

Sungguh ia benar-benar bingung harus bagaimana menyikapi adiknya itu. 

Tingkahnya sudah sangat keterlaluan, selalu saja membuatnya kesal. 

*****

*****

" Kamu seneng neng? " 

" Iya a, yaya seneng pisan " 

Yaya tidak berhenti tersenyum karena ilham menjemputnya saat pulang sekolah dan mengajaknya jalan-jalan dan mampir ke kebun bunga miliknya. 

" Kamu suka bunga apa neng? " 

Tanya ilham. 

" Yaya suka bunga matahari a "

Yaya mengedarkan pandangannya, pada setiap ladang bunga yang ia lewati. 

" Kenapa suka bunga matahari? "

" Karna.. Bunga matahari itu seperti aa " 

" Kok seperti aa sih neng, ngaco kamu "

Ilham terkekeh 

" Bunga matahari itu seperti aa.. Aa juga seperti matahari yang selalu menyinari yaya "  Yaya menghentikan langkahnya, tersenyum menatap ilham. 

" Gombal kamu neng " 

" Yaya serius ih aa mah! "

Yaya merenggut karna ilham menertawakannya. 

" Iya iyaa.. Makasih neng "

" Iya a, ih yaya teh sayang pisan sama aa "

Lagi-lagi ilham hanya bisa tersenyum, ia merasa bahagia karena yaya menyayanginya. 

" Kok malah senyum aja sih a? " 

Yaya menatap ilham heran. 

" Terus? " 

" Harusnya aa juga bilang kalo aa sayang sama yaya " 

" Gak usah bilang juga neng pasti tau "

" Tapi yaya pengen denger langsung atuh a " 

Ilham mengedikkan bahu nya, berjalan melewati yaya membuatnya mendesah pelan. 

" Aa gak sayang sama yaya? "

Tanya yaya memastikan, ilham tersenyum tanpa yaya ketahui. 

" Ya udah ah, yaya mah mau pulang aja "

Yaya merenggut kemudian berbalik menjauhi ilham yang terus saja berjalan tanpa menghiraukannya. 

" Yaya! " 

Setelah cukup jauh ilham memanggil yaya, membuat yaya menghentikan langkahnya kemudian tersenyum tanpa ilham ketahui.

" Gak boleh pundungan atuh neng, pamali " Kata ilham setelah berdiri dihadapan yaya, dapat ia lihat mata yaya berkaca-kaca. " Aa sayang pisan sama yaya, Aa juga cinta sama yaya " Ilham tersenyum memberikan setangkai bunga mawar pada yaya. 

" Aa.. "

Airmata yaya meluncur begitu saja, ia benar-benar sangat bahagia. Dengan penuh haru, Ia menerima bunga yang diberikan ilham padanya. " Makasih ya a, aa teh meni so sweet! " Yaya mengusap airmatanya kemudian tersenyum lebar. 

" Sama-sama sayang "

Mata yaya mengerjap pelan, menatap ilham. 

" Apa? "

Tanya ilham pura-pura bodoh. 

" Coba sekali lagi a "

Tuntutnya.

" Apanya? "

" Barusan aa bilang apa? "

" Sama-sama " 

" Aah ada lagi barusan mah iih! "

" Salah denger kamu neng "

" Enggak! Yaya gak salah denger. Lagi a "

Ilham menggelengkan kepalanya. 

" Ya udah ah yaya mau pulang aja "

" Ya udah sana pulang "

" Tega da aa mah " 

Yaya mengentakkan kakinya sebal. 

" Tega apa? sayang.. "

" Aakhhh! Aa sini atuh peluk! "

Yaya memekik senang. 

Ilham langsung melarikan diri ketika yaya merentangkan tangannya. 

" Aa! Ayo peluk a! "

Yaya tertawa mengejar ilham yang terus menghindar. 

" Jangan neng, gak boleh " 

Teriak ilham sambil berlari. 

" Atuh da ih tibang meluk doang mah gak apa-apa a " 

" Bukan mukhrim "

Yaya tertawa begitupula dengan ilham yang terus berlari karena yaya terus mengejarnya. Keduanya tertawa lepas tanpa ada seorangpun yang mengganggu. 

****** 

" Yaya belum pulang ya bi? " Raffi mendekati Aminah yang terlihat sedang memasak didapur. 

" Belum den, tadi sih bilang sama bibi katanya mau main sama ilham " 

Sahut aminah tanpa menoleh. 

Raffi terdiam, lagi-lagi ia merasa tidak suka. " Ilham itu sebenernya siapa sih bi? "

Tanya raffi penasaran. 

" Ilham itu salah satu pemuda dikampung ini den, selain kasep. Dia berprestasi, udah gelar sarjana. Pinter ngaji, punya usaha sendiri lagi den "

Aminah tersenyum menatap raffi.

" Kayaknya yaya suka ya sama si ilham "

" Iya den, siapapun bakalan suka atuh sama ilham mah " 

" Dia punya usaha apa emangnya? "

" Punya kebun bunga, tiap ada yang mau hajatan ilham sibuk ngurusin pelanggannya, bahkan sering ngirim kota juga " 

" Oh gitu " 

Raffi menganggukkan kepalanya. 

" Assalamu'alaikum " 

" Waalaikumsalam "

Tatapan raffi teralih pada yaya yang barusaja datang dengan membawa satu tangkai bunga dan entah apa didalam plastik hitam. 

" Ibu masak apa hari ini? " 

Tanya yaya seraya mendekat. 

" Sayur lodeh neng, kenapa? "

Aminah tersenyum melirik yaya. 

" Ini yaya bawa buah, dikasih aa ilham tadi " 

" Ohh alhamdulillah neng, taro aja disana. Nanti ibu cuci " 

" Yaya mau ke kamar dulu ya bu "

Pamitnya. 

" Iya neng, jangan lupa langsung mandi "

" Iya iyaa.. "

Raffi terus saja memperhatikan yaya, sampai yaya melihat kearahnya. 

" Apa liat-liat? " 

Kata yaya setelah melewati raffi. 

" Pede lo! "

" Hiliih emang kamu ngeliatin yaya kok, wlee! " Yaya memeletkan lidahnya, membuat raffi melotot kesal. 

Aminah tersenyum, menggelengkan kepalanya. " Maaf yaa den, yaya teh suka gitu " katanya tidak enak hati. 

" Gak apa-apa bi, udah biasa dari kemarin juga nyebelin "  Sahut raffi. 

" Kamu lebih nyebelin lagi huu~ "

" Yayaa.. "

Tegur Aminah. 

" Dia duluan buu! "

Yaya berteriak. 

" Udah ah den, gak usah dilayanin "

Raffi mendengus dan berusaha untuk tidak terpancing. 

Yaya masuk kedalam kamarnya, senyumnya kembali merekah ketika membayangkan kebersamaannya dengan ilham. 

" Aa ilham so sweet! "

Yaya mencium bunga itu dengan gemas, menaruhnya didepan cermin rias. "  Yaya bahagia pisan ya allah.. " Mata yaya berbinar-binar. " Aa ilham pang kasepna, pujaan hati yaya " Yaya mekik, dan tersenyum sendiri didepan cermin. 

Mungkin jika ada orang lain yang melihat, yaya akan disebut seperti orang gila. 

Tiba-tiba senyumannya luntur, tatapan yaya teralih pada ponsel yang tergeletak di dekat buku nya. "  Ini teh hape si raffi, kenapa mau dibuang coba meni bagus gini " Yaya meletet heran. 

Ia mengaktifkankan handphone itu kemudian menyambar handuk, bergegas untuk segera mandi. 

" Aden mau ke mesjid? "

Samar-samar, yaya mendengar ibu nya bersuara. Ia mengentikan langkahnya. 

" Iya bi, udah mau maghrib kayaknya "

" Alhamdulillah den, bibi seneng pisan dengernya "

" Ya udah jung atuh, nanti abis dari masjid kita makan sama-sama nya " 

" Iya bi "

Yaya menegakkan badannya ketika raffi muncul diikuti ibu nya. 

" Nguping ya lo? "

" Hih, naon da yaya mah baru ge keluar. Pede pisan! "

Yaya berjengit, ia melangkah lebar menuju kamar mandi membuat ibu nya menggelengkan kepala. 

****** 

" Pokoknya papa gak mau tau! Kamu harus cari raffi sampai ketemu! "

Lelaki itu menggertakkan giginya mendengar bentakan dari sang ayah yang kini murka karna anak bungsu nya pergi entah kemana. 

Ia menghirup udara dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. 

" Raffa! " 

" Raffi emang gak pulang udah tiga hari ini, tapi papa tenang aja. Raffa akan segera menemukan raffi kembali " 

Raffa, lelaki itu mencoba sabar menghadapi papa nya yang kini terlihat sangat emosi. 

" Jika kamu sudah menemukan raffi, bawa dia kehadapan papa! Anak itu benar-benar harus diberi pelajaran! " 

Raffa hanya bisa mengangguk pasrah, ia sudah terlalu pusing dengan kelakuan adiknya yang begitu membangkang. 

Cerita Cinta Romantis

Entah apa yang ia fikirkan, kepalanya seperti akan pecah. 

Ting! 

Raffa mengalihkan tatapannya pada ponsel yang berbunyi, ia mendekat. Disana tertulis laporan pengiriman pesan. 

Cerita Cinta Berjudul Our Love


Senyum tipis terukir jelas dari wajah tampannya. 

" Raffi! "

Gumamnya tanpa suara. 

Dengan segera ia menghubungi nomor raffi. 

-

Yaya mengerjap pelan ketika mendengar suara ponsel berbunyi. " Hape si raffi bunyi? Siapa nya? " Yaya langsung memeriksanya, nomor tidak dikenal. Ia mengerutkan keningnya heran. 

" Buuu.. "

Yaya langsung keluar kamar, menghampiri ibu nya dikamar. 

" Apa neng? "

Tanya Aminah. 

" Ini hape nya si raffi bunyi "

" Kok bisa sama kamu hape nya? "

Aminah menatapnya bingung. 

" Iya kan kemarin hape nya mau dibuang sama si raffi, ya udah atuh dipungut aja sama yaya. Soalnya nyaah atuh bu "

Jelas yaya. 

Aminah mengangguk mendengar penjelasan anaknya.  " Raffi nya belum pulang, coba angkat aja "

" Gak apa-apa emangnya bu? "

" Gak apa-apa, sok angkat. Ibu mau nyiapin dulu makannya "

Yaya mengangguk, kembali memasuki kamar. 

Tidak lama kemudian, ponsel itu kembali berbunyi. Yaya langsung mengangkatnya. 

" Halo? Assalamu'alaikum "

Sapa nya hati-hati. 

Disebrang sana, raffa mengerutkan keningnya heran. Kenapa seperti suara perempuan. [ Halo? Raffi? Lo dimana? ]

" Mm.. Punten, ini teh sama siapa? "

Tanya yaya hati-hati. 

[ Ini nomornya raffi kan? Mana raffi ]

" O-oh, iya.. Ini teh nomornya raffi. Tapi punten a, raffi nya lagi sholat dimesjid belum pulang " 

[ Sholat? ]

Raffa sedikit terperangah. 

" Iya, atuh nanti we telpon lagi kalo raffi nya sudah pulang "

[ Eh tunggu, tunggu! ]

" Iya ada apa? "

[ Saya boleh minta alamat kan? Saya ada perlu sama raffi. Penting ]

" Oh.. Bisa bisa " 

Yaya menyebutkan alamat kampungnya, disebrang sana raffa tersenyum penuh kemenangan setelah mencatat alamat itu disebuah note. 

[ Makasih ya ]

" Sama-sama " Yaya langsung menutup sambungan telpon itu. Ia mengernyit heran. " Kenapa orang itu teh meni siga kaget pas yaya bilang raffi sholat dimesjid? "

" Hiih, pasti da gara-gara si raffi mah gak pernah sholat. Amit-amit " Yaya mendengus, meletakan ponsel itu kemudian keluar dari kamarnya. 

Raffi tersentak ketika yaya keluar dari kamarnya. Dengan cepat ia mengubah ekspresi. 

" Neng.. Ajakin si aden makan " 

Teriak aminah dari dapur. 

" Iya, Adeen~ ayo makan "

Raffi memutar bolamatanya, ajakan yaya seolah meledek. Yaya terkikik melihat raffi yang terlihat kesal.  " Dasar anak mamih! "

Bibir yaya menyibik sembari mengikuti langkah raffi. 

" Si Aden meni kasep pisan. . Sok sini duduk, kita makan " 

Raffi tersenyum bangga ketika Aminah menyambutnya, mengabaikan yaya yang berjalan dibelakangnya. 

Yaya meletet mendengar ibunya memuji raffi, mendudukkan dirinya sendiri dengan sebal. Ibu nya terlihat begitu perhatian pada raffi. 

" Yang banyak makannya den, bibi masakin opor ayam kesukaan aden " 

Kata aminah penuh perhatian. 

" Makasih bibi "

Sahut raffi, perasaanya begitu hangat. 

Dengan telaten, Aminah menyendokkan nasi serta Opor ayam untuk raffi. Melihat itu yaya mendelik. 

" Neng.. Sini biar ibu ambilin nasi nya "

" Gak usah bu, yaya kan bisa ngambil sendiri! " Katanya penuh penekanan. Matanya melotot kearah raffi, sengaja menyindir. 

Raffi tersenyum penuh kemenangan, memeletkan lidahnya. Hampir saja sendok ditangan yaya melayang jika Aminah tidak menahannya. 

********* Ke esokan harinya **********

Raffa terdiam di mobilnya ketika sampai didepan sebuah rumah. " Ini rumah siapa? Kenapa si raffi bisa nyampe sini? " 

Gumamnya pelan. 

Ia merasa enggan keluar, ia harus memastikan terlebih dahulu kalau raffi benar-benar ada disini. 

" Awas nya kalo kamu nyuruh-nyuruh ibu buat nyuciin sepatu! Cuci sendiri! "

Pandangan raffa teralih pada gadis berseragam SMA yang baru saja keluar dengan wajah kesalnya, terlihat menggerutu. 

" Bawel banget sih lo! Udah sana pergi " 

Raffi! 

Raffa tersenyum, raffi benar-benar ada dirumah itu. 

" Itu den raffi mas! "

" Ayo kita turun! "

" Saya tahu! Tunggu sebentar! "

2 boddygouard raffa langsung terdiam memperhatikan raffi yang tengah bercengkrama dengan seorang gadis. 

" Yaya.. Udah, jangan gitu atuh sama si aden " 

Raffa tertegun, mengenali siapa yang keluar dari rumah mengikuti raffi dan gadis itu. 

" Bibi Aminah? "

Gumamnya, sedikit terkejut. 

Raffa melihat gadis itu menyalimi bibi Aminah. Dengan segera ia keluar dari mobil setelah gadis itu pergi, diikuti kedua boddyguard nya. 

" Raffi "

Raffi tersentak ketika kakaknya kini berada tidak jauh darinya, bersama 2 pengawal setia nya. 

" Bawa raffi "

Perintahnya.

" Jangan mendekat! "

Raffi berteriak penuh amarah, membuat kedua boddyguard itu terdiam bimbang.

Aminah terlihat was-was karena tidak mengerti situasi. 

" Den.. " 

" Cepat Bawa! "

Teriak raffa lantang, kedua boddyguarnya langsung mencekal lengan raffi. 

" Lepasin Gue! "

" Aden.. Ya allah! "

Aminah berteriak panik. 

" Bawa dia kemobil! "

" Siap mas! "

" Gak! Lepas! Lepasin gue sialan! Aarrggghh " 

" Den raffi! "

Aminah berteriak histeris ketika raffi diseret-seret masuk kedalam mobil. 

" Lepaskan den raffi! Lepaskan! "

Aminah berusaha mengejar raffi yang meronta-ronta. 

" Bibi.. " 

Aminah tertegun, menatap wajah lelaki yang kini ada dihadapannya. 

" Bibi tenang aja, raffi akan baik-baik aja "

" Kamu ini siapa! Kenapa raffi dibawa pergi! Lepaskan den raffi! " 

Teriak Aminah disertai airmata.

" Saya raffa bi, kakaknya raffi. Bibi udah lupa? " Katanya sedikit kecewa, kenapa bibi Aminah tidak mengingatnya. 

Mata aminah membulat. Ia merasa tidak menyangka kalau lelaki yang ada dihadapannya adalah raffa. " Den raffa? "

Katanya tanpa sadar. 

Raffa mengangguk dan tersenyum hangat. 

" Maaf bi, raffa gak bisa lama. Raffa harus pergi " Raffa menyentuh bahu Aminah, mencoba menenangkan. " Bibi tenang aja, raffi gak akan kenapa-kenapa. " 

" Den! Kenapa den raffi teh dibawa den! Aden tunggu! "

Raffa tidak mengindahkan perkataan aminah, ia segera memasuki mobilnya. 

Ia melirik kearah raffi sekilas, raffi tampak tertidur. Ia tahu, raffi pingsan. Itu lebih baik, daripada ia terus meronta dan berteriak. 

Disana Aminah berteriak-teriak menggedor-gedor kaca mobil raffa sembari menangis. " Den raffa! Jangan bawa den raffi! " teriaknya. 

Raffa mendesah pelan, menjalakan mobilnya membuat aminah semakin menjerit-jerit bahkan beberapa orang sempat mengejar mobilnya.

Aminah tertunduk lesu, ia begitu khawatir dengan raffi. " Ya allah.. Si aden teh kenapa dibawa " Jeritnya, membuat beberapa orang mendekat. 

Aminah ditenangkan tetangga-tetangga nya, dibawa masuk kedalam rumah. 

Ilham yang kebetulan lewat, mengerutkan keningnya karena rumah bu aminah terlihat ramai. " Assalamu'alaikum, punten ini teh ada apa? "  Tanya ilham was-was. 

Cerita Cinta yang Negatif

" Itu ham, barusan bu aminah nangis-nangis. Tamu nya dibawa pergi sama orang " 

" Astagfirullahaladzim " 

Ilham langsung menyerobot masuk, menghampiri Aminah yang terduduk lesu dikursi. 

" Ibu.. Ibu gak apa-apa? "

Tanya ilham hati-hati. 

" Den raffi, den raffi dibawa pergi ilham.. Kumaha atuh ibu teh takut " 

Jawab Aminah. Tubuhnya gemetar. 

" Ibu tahu siapa yang udah bawa raffi? " 

" Raffa dibawa sama kakaknya, tapi atuh da meni diseret-seret kitu. Ibu takut si Aden kenapa-kenapa " 

" Ibu sekarang tenang, jangan panik. Mendingan berdo'a, insya'allah raffi baik-baik aja "  Ilham berbicara lembut, menenangkan Aminah. 

Aminah mengangguk, setelah mendapatkan ketenangan dari ilham. 

Melihat itu, ilham tersenyum. 

" Yaya tau kalo raffi dibawa pergi? " 

Tanyanya lagi. 

" Enggak, tadi th pas yaya mangkat. Mobil etateh datang " 

-

" Ibu-ibu yang tadi itu seperti mengenal den raffi, mas " Tanya salah seorang boddyguard raffa. 

" Itu ibu asuh raffi saat kecil "

Kedua boddyguard itu saling pandang. 

" Pantas saja mas, mungkin den raffi kesana ingin menjenguknya " 

" Saya tidak tahu " 

Raffa mendesah pelan, ia berpikir raffi terlihat jauh berbeda ketika bersama Aminah. 

Dan ia masih ingat, semalam. Gadis itu mengatakan kalau raffi sholat dimasjid. 

Entah apa yang ada difikiran raffi, sampai membuatnya menjadi seorang pembangkang bahkan sangat keras kepala. 

Bahkan ia pernah mengajak raffi sholat, mengaji. Tapi raffi tidak pernah mau, raffi akan lebih memilih bermain game sepanjang hari jika tidak punya kegiatan.

Raffa mengusak rambutnya, merasa pusing memikirkan tingkah adiknya.

Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya raffa sampai disebuah rumah mewah yang terlihat seperti istana. 

" Mas.. Tuan sudah menunggu didalam "

Kata salah satu satpam dihalaman rumah. 

Raffa mengangguk, tanpa menyahut. 

Mengisyaratkan kedua boddyguardnya untuk membawa raffi kedalam rumah. 

Raffi menggeliat pelan ketika merasakan tubuhnya melayang, ia menggerjap seketika itu matanya terbeliak. " Lepasin gue! " Raffi terkesiap dan kembali berteriak, saat 2 orang boddyguard itu dengan sigap menahan tangannya. 

" Aarrgghhh! Lepas! Gue bilang lepas! " 

Raffi terus meronta-ronta karena boddyguard itu terus menyeretnya kedalam rumah. 

" Lepaskan dia " 

Sorot mata raffi menajam ketika seorang lelaki paruh baya menghampirinya. 

PLAK! 

Raffi tersenyum getir, ia sudah terbiasa mendapatkan tamparan dari papa nya. Ia bahkan tidak peduli sama sekali. 

" APA YANG KAMU MAU SEBENARNYA HAH! APA TIDAK CUKUP SEMUA YANG PAPA BERIKAN SELAMA INI! " 

Teriaknya dengan nada tinggi yang begitu menggema.  " KENAPA KAMU SELALU SAJA MEMBUAT ULAH! MEMBUAT PAPA PUSING! " 

Raffi terdiam tanpa menyahut, ia sama sekali tidak peduli apa yang dikatakan papa nya. 

" Apa papa mau nampar raffi lagi? " 

Tanya raffi seolah menantang papa nya.

" KAMU INI BENAR-BENAR RAFFI! " 

Tangan itu hendak melayang lagi namun tertahan melihat sudut bibir anaknya mengeluarkan darah. 

Raffi mengerling, kemudian melengos begitu saja dengan tatapan dinginnya. 

Raffa mendesah pelan, Ia sudah terbiasa melihat pertengkaran papa dan adiknya itu. Hampir setiap minggu. " Pa.. " ia mendekat. 

" Kemana dia pergi sebenarnya? "

Tanya papa nya tanpa menoleh. 

" Raffi pergi kerumah bibi Aminah " 

Sahut Raffa pelan. 

" Aminah? " 

Raffa mengangguk, Papa nya sama sekali tidak menyahut dan berlalu begitu saja. 

" Awasi raffi, jangan sampai dia kabur lagi. Saya harus segera ke kampus "

Katanya sembari melangkah mengikuti papa nya. Ia memijit keningnya yang terasa berdenyut. 

" Baik Mas " 

Sahut kedua boddyguard itu. 

Didalam kamarnya, raffi memandang ke arah jendela. Disana ia melihat ayah nya hendak pergi lagi. 

" Istana ini seperti neraka " 

Gumamnya lirih. 

***** 

*****

Sore ini, Awan hitam kembali terlihat bergerumbul. Tanda akan turun hujan. 

Yaya melangkah kan kakinya dengan cepat setelah turun dari angkutan umum. benar saja, Ketika ia sampai dihalaman Hujan turun dengan begitu lebatnya. 

" Hhh.. Untung aja udah sampe "

Yaya mendesah lega. 

" Neng.. " 

Yaya menoleh, mendengar suaranya ibu nya. Senyumnya mengembang. 

" Assalamu'alaikum bu "

Yaya menyalimi ibunya dengan sopan. 

" Waalaikumsalam "

Yaya mengeryit, melihat mata ibu nya yang sembab. " Ibu kenapa? Kok ibu nangis? " tanya nya khawatir. 

" Den raffi neng.. "

" Raffi? Ibu nangis gara-gara raffi? "

" Den raffi dibawa pergi.. " 

Yaya tertegun, menatap ibu nya seolah meminta penjelasan. 

" Tadi, pas eneng berangkat sekolah. Ada mobil kesini. Tiba-tiba aja mereka nyeret-nyeret den raffi neng, den raffi dibawa pergi " Aminah kembali menangis. 

" Sama siapa bu? Ibu kenal sama orangnya? "

" Dia ngaku nya kakak den raffi neng, tapi ibu th khawatir pisan neng. Kumaha atuh " 

" I-ibu tenang.. Mendingan kita masuk dulu nya. " 

Yaya membawa ibu nya masuk kedalam, dengan perasaan yang bercamuk. " Apa jangan-jangan orang itu teh yang nelpon raffi semalem bu? Soalnya dia minta alamat " Kata yaya memecah keheningan. 

" Ya allah neng.. Jangan-jangan itu teh culik.. "

Aminah tersentak. 

" Iiihh kumaha atuh ibu mah, jangan nakut-nakutin yaya! " 

Yaya panik karena ibu nya mengira-ngira 

" Coba atuh neng, kamu telpon balik kesana " 

Yaya mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil gawai raffi. " Ini nomernya bu, coba yaya telpon dulu nya " 

Yaya mencoba untuk menghubungi nomor itu, berkali-kali tidak diangkat. " Aduhh teu diangkat bu, kumaha atuh " 

Yaya menggerutu panik. 

" Sok atuh coba di Sms neng "

Yaya mengetikkan sesuatu digawai itu dengan was-was, entah kenapa ia juga merasa sangat khawatir. 

" Kumaha neng? Dibales? "

Tanya Aminah. 

" Belum bu, baru ke kirim "

Aminah mondar-mandir tidak jelas menunggu balasan pesan, begitu pula dengan yaya. Ia merasa bersalah karena dirinya lah yang memberitahukan dimana raffi berada. 

" Aduuh.. Kumaha atuh gening gak dibales-bales bu, yaya teh khawatir " Yaya kembali bersuara setelah 15 menit menunggu, Aminah tetap tidak bergeming. Ia merasa takut dan khawatir jika terjadi sesuatu kepada raffi.  Yaya mendesah pelan, mencoba kembali menghubungi nomor itu.  Ia tersentak ketika panggilan itu tersambung 

Cerita Cinta Negatif Berjudul Our Love Part 4

" H-halo? Halo Assalamu'alaikum "

[ Waalaikumsalam, Ada apa? ]

" Ada apa! Ada apa! Kamu teh pasti orang yang udah bawa den raffi ! Balikin den raffi! Kamu teh siapa! Kamu culik ya! " 

Raffa menjauhkan gawainya, mengernyit heran. Suara gadis itu terdengar cempreng memekakkan telinga. [ Saya kakaknya, Saya berhak membawa nya pulang. ]

Sahut raffa setenang mungkin. Ia tahu yang menghubunginya kini adalah gadis yang semalam mengangkat panggilannya. 

" Atuh kumaha ayeuna den raffi dimana! Kamu gak ngapa-ngapain den raffi kan? Ini teh ibu saya jadi panik daritadi nangis terus gara-gara kamu bawa den raffi! " 

Yaya memekik, penuh kepanikan. 

Raffa memijat keningnya yang terasa semakin berdenyut. [ Raffi baik-baik aja, dia ada dikamarnya ] .

[  Jangan bohong kamu! Coba kasih hape nya! Saya mau ngomong! ]

Raffa yang barusaja pulang dari kampus, melangkahkan kakinya ke kamar raffi. 

Ia tidak memperdulikan celotehan gadis yang kini tengah menelponnya. 

" Raffi, buka pintu nya " 

Raffa mengetuk pintu itu berkali-kali, sampai akhirnya pintu itu terbuka menampilkan raffi dengan wajah datarnya. 

" Ada yang mau ngomong sama lo " 

Kening raffi mengernyit, Raffi menerima ponsel yang diberikan kakaknya kemudian mendekatkannya ke telinga. 

[ Kamu pasti culik! Kamu teh penjahat! Kamu teh gak takut dosa nya! Balikin den raffi! ]

Ia bergidik ngeri sana  mendengar teriakan seorang gadis disebrang sana, ia mengenal suara itu kemudian menjauhkannya dari telinga nya. 

" Dia mau mastiin kalo lo baik-baik aja, kayaknya dia perhatian banget sama lo "

Kata raffa disertai senyuman. 

" Diem lo! " 

Raffa mengedikkan bahu nya pura-pura tidak peduli. 

" Halo? "

[  Halo? Raffi? Kamu raffi? ]

" Iya, gw raffi. Ada apa lo nanyain gue "

Tanya nya berusaha terlihat biasa saja. 

[ Ya allah.. Alhamdulillah, yaya teh khawatir pisan. Kamu baik-baik aja kan? ]

Raffi tertegun, yaya mengkhawatirkannya. Entah kenapa perasaanya menghangat. " Gue baik-baik aja " jawabnya dengan senyuman simpul.

[ Jelasin sama yaya, kata ibu kamu diseret-seret masuk ke mobil. Itu teh siapa? ]

" Itu kakak gue, udah lo gak usah khawatir " Raffi merasa senang karena yaya mengkhawatirkannya. 

[ Ini katanya ibu mau ngomong ]

Yaya memberikan ponsel itu pada ibunya, ia meruntuk dalam hati saat mengatakan kalau dirinya khawatir. 

[ H-halo aden? ]

Raffi tersenyum mendengar suara ibu asuhnya. " Halo bi "

[ Ya allah aden.. Bibi teh khawatir pisan, aden gak kenapa-kenapa? ]

" Gak kok bi, affi baik-baik aja " 

[ Alhamdulillah kalo gitu mah den, bibi seneng dengernya ]

Raffi tersenyum lirih, ia bahkan tidak pernah di khawatirkan oleh kedua orangtuanya. 

" Iya bibi, bibi jangan khawatir lagi. Nanti kalo ada waktu affi pasti main lagi kesana " 

[ Iya aden, jaga diri baik-baik nya. Bibi teh nyaah pisan sama aden ] 

" Makasih bi, bibi selalu memberikan kasih sayang yang gak pernah affi dapatkan dari siapapun. Affi juga sayang sama bibi " 

Raffi tersenyum tulus saat mengatakannya. 

Raffa tertegun, ia jelas tahu raffi seolah menyindirnya. Seolah menyindir papa dan mama nya sendiri. 

Ia tahu, sejak kecil raffi diAsuh oleh bibi Aminah. Raffi tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian karena papa dan mama nya terlalu sibuk. 

Sekarang ia tahu, alasan itu menjadikan raffi seperti sekarang, tidak pernah mendengarkan perkataannya apalagi perkataan papa dan mama nya. 

Ia hanya akan mendengarkan perkataan Aminah, ibu asuhnya.

Related Posts

Post a Comment