6 Cerita Cinta Yang Negatif Our Love

Post a Comment

 

cerita cinta yang negatif

OUR LOVE

- ( Flashback ) -

" Mars! " 

Marsye mengalihkan tatapannya saat sahabatnya datang menghampirinya dengan mata berbinar-binar. " Kenapa lo tan? " tanya nya. 

" Gue suka sama seseorang mars! Menurut lo gimana? " 

" Lo suka sama siapa? Siapa cowok hebat yang udah bikin lo jatuh cinta? " 

Tanya nya antusias. 

" Kak ikhsan! Gue suka sama kak ikhsan mars! " 

Marsye mengerjapkan matanya, apa ia tidak salah dengar? " Kak ikhsan? K-kenapa? " tanya nya kaku. 

" Kok kenapa sih mars! Lo gak suka ya kalo gue suka sama kak ikhsan? Atau jangan-jangan lo juga suka sama kak ikhsan? "

" Hah? Eng-enggak! Gue gak suka sama kak ikhsan " 

Jawabnya cepat. 

Marsye dapat melihat, mata sahabatnya kembali berbinar " Kalo gitu.. Lo harus bantuin gue buat deket sama kak ikhsan. Lo mau kan bantuin gue? Pliisss.. " 

" Kenapa harus kak ikhsan tan? "

Cerita Cinta

" Gue gak tau mars! Tiap gue liat kak ikhsan. Jantung gue berdebar-debar, hati gue berbunga-bunga gitu. Menurut beberapa artikel yang pernah gue baca, Itu artinya gue jatuh cinta sama kak ikhsan mars. Lo kan deket sama kak ikhsan. Jadi lo pasti bisa deketin gue sama dia "

Marsye terdiam dengan perasaan tidak menentu, perasaanya terasa sakit. 

" Mars! Lo kok diem aja sih? " 

" I-iya.. I-ya gue pasti bantuin lo tan, apasih yang enggak buat lo. " 

Marsye mencoba untuk menampilkan senyuman saat hatinya mendadak sakit. ia harus menerima bahwa sahabatnya kini menyukai orang yang sama. 

-

" Mars! " 

Intan berhambur kedalam pelukan Marsye, membuatnya sedikit terperangah membalas pelukannya. 

" Aduh tan! Kira-kira napa? Ada apasih? "

Tanya marsye penasaran, karena sahabatnya kini terlihat begitu bahagia. 

" Gue jadian sama kak Ikhsan! Aaaa~ gue bahagia banget mars! Ini semua berkat lo! " 

Marsye tersentak, ia kembali merasakan sakit dihatinya. Untuk kesekian kalinya. 

" L-lo serius? " 

" Iya mars, gue bahagia banget. Ternyata kak ikhsan juga suka sama gue selama ini "

Pekiknya girang. 

Marsye tersenyum getir, airmatanya mengalir begitu saja. 

" Mars? " Intan merenggangkan pelukannya " Lo kenapa nangis? Lo gak suka liat gue bahagia? " tanya nya. 

" G-gue bahagia tan, ini airmata kebahagiaan. Gue bahagia karna lo bahagia " 

" Lo emang sahabat gue yang terbaaiik mars! " intan kembali menarik Marsye kedalam pelukannya. 

Intan sama sekali tidak menyadari tatapan penuh luka yang ditunjukan marsye. 

" Selamat ya tan. Semoga hubungan kalian abadi " 

" Tan? Lo kenapa? "

Marsye menghampiri intan yang nampak murung dibangku taman sekolahan, sedari tadi ingan terlihat berbeda dari biasanya. tatapannya begitu kosong seperti tidak punya semangat hidup. 

cerita cinta Yang Negatif

" Mars.. "

Intan memeluk marsye, bahu nya terguncang, menandakan kalau intan menangis. 

" Tan? Tan lo kenapa? " 

Marsye merasa khawatir. 

" Kak ikhsan mars, hikss.. Kak ikhsan "

" Kak ikhsan kenapa? Ada apa? " 

" Kak ikhsan mutusin gue.. Hiikss "

" A-apa? "

Jelas, marsye sangat terkejut. Mengingat hubungan keduanya terlihat sangat baik-baik saja. Intan selalu bercerita padanya tentang hubungannya dengan ikhsan. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi kenapa ikhsan memutuskan intan? 

" Kenapa? Alasannya apa dia mutusin lo tan? Gue gak ngerti " 

" Gue gak tau mars, tiba-tiba aja kak ikhsan minta putus. Dia bilang selama ini dia cuma pura-pura cinta sama gue hikss " 

Marsye tertegun, kenapa ikhsan begitu tega membohongi sahabatnya? Tanpa sadar tangannya mengepal kuat. " Lo tunggu disini, biar gue kasih pelajaran si ikhsan " desisnya. Ia merasa tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu. 

" Mars! Lo mau kemana? "

" Gue harus temuin si ikhsan! "

" Jangan! Marss. Tunggu! "

Marsye tidak memperdulikan teriakan intan, ia berlari menghampiri ikhsan yang tengah bermain basket dilapangan. 

BUGH! 

" Brengsek lo! "

Teriaknya. 

Ikhsan terhuyung saat mendapat serangan tiba-tiba dari marsye, ia menautkan alisnya bingung. " Maksud lo apa? " 

" Lo udah bikin sahabat gue sakit hati! Lo mutusin dia tanpa sebab! Cowok macam apa lo hah! " 

Ikhsan hanya bisa terdiam tanpa menyahut, yang jelas ia tahu sumber kemarahan marsye padanya adalah intan. 

Ia yakin sekali kalau intan mengadu pada marsye. 

" Gue gak cinta sama intan " 

" Kalo lo gak cinta! Kenapa lo nyatain cinta sama dia! Itu sama aja lo mainin perasaan dia! Brengsek! "

Bugh! 

Marsye kembali meninju wajah ikhsan membuat sudut bibirnya berdarah. Tidak ada yang memisahkan keduanya karena takut menjadi sasaran marsye. 

" Lebih baik gue jujur kan? Gue emang gak cinta sama intan selama ini karna gue cinta sama- " 

" Kenapa lo gak jujur dari awal? Kenapa hah! Lo emang brengsek san! "

Marsye kembali menarik kerah baju ikhsan, hendak melayangkan tangannya. 

" BERENTII! " 

Teriak seseorang, yakni intan dengan keringat dan airmata yang bercucuran. 

" Berenti Mars! Jangan sakitin kak ikhsan " 

" Dia udah nyakitin lo tan! " 

Intan menggelengkan kepalanya, melepaskan tangan marsye yang memegang baju ikhsan. " Ini bukan salah kak ikhsan, ini semua salah intan. Mars " lirihnya. 

" Tan.. " 

" Harusnya intan sadar diri, harusnya intan dengerin marsya. Intan emang bodoh, maafin intan mars " 

" Tan! Sadar tan! Lo kenapasih tan?! "

Marsye mengguncangkan bahu intan.

Tatapan intan begitu kosong, membuat marsye merasa sangat khawatir. 

" Kak.. Makasih ya, walaupun kak ikhsan cuma pura-pura. Tapi intan bahagia bisa deket sama kak ikhsan, intan bahagia pernah milikin kak ikhsan " 

" Tan! " 

" Mars.. Janji sama intan, mars jangan mukulin kak ikhsan lagi. Dia sama sekali gak bersalah. Kalo mars gak mau janji, intan marah. " 

" Lo ngomong apasih tan? Jangan bikin gue takut! " 

" Jangan sakitin orang yang intan cintai ya mars, intan titip kak ikhsan " 

Tepat setelah mengatakannya. Tubuh intan ambruk begitu saja dihadapan marsye. 

" INTAN! " 

Marsye menjerit kaget begitupula dengan semua orang yang menyaksikannya. 

" Tan! Tan lo kenapa? Intan bagun! "

Marsye berkali-kali menepuk pipi intan, berharap sahabatnya itu membuka matanya. " Cepet panggil ambulan! " pekiknya disertai airmata. 

-

" Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi racun itu bekerja lebih cepat menyebar kedalam tubuhnya. " 

" Racun? "

Marsye menatap dokter itu dengan tatapan tidak percaya. 

" Pasien sengaja melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum racun " 

" Gak mungkin dokter! Gak mungkin sahabat saya senekat itu! "

Teriaknya lantang. 

" Maaf, pasien tidak bisa diselamatkan " 

Seperti tersambar petir disiang hari, tubuh marsye mengegang. Tangannya mengepal kuat " Gak mungkin! Dokter pasti bohong! Dokter pasti bohong! Intan gak mungkin meninggal! " Jeritnya pilu. 

Marsye langsung menerobos masuk kedalam ruangan itu, disana intan terbaring ditutupi kain putih. 

" INTAN! "

Marsye kembali menjerit saat membuka kain putih itu. 

" KENAPA LO NINGGALIN GUE TAN! KENAPA! KENAPA LO MILIH MATI DENGAN CARA KEK GINI INTAN! BANGUN! BANGUN INTAN! " 

Marsye terus saja mengguncangkan jasad intan yang kini terbaring lemah, ia terus menjerit sampai ikhsan datang menghampirinya. 

Ikhsan terdiam kaku, ia tidak ingin percaya pada kenyataan itu. " Intan.. " gumamnya tanpa suara. 

Ia mendekat untuk memeriksa keadaan intan lebih jelas, nafasnya tercekat saat ia merasa tidak ada denyut nadi ditangan intan. " Gak mungkin.. Intan! Bangun intan! Bangun! " 

Tangan marsye mengepal kuat saat mendengar teriakan ikhsan. 

" INI SEMUA GARA-GARA LO! "

BUGH! 

ikhsan tersungkur kelantai saat marsye kembali menghujamnya. 

" PUAS LO HAH! LO UDAH BIKIN INTAN MATI! LO PEMBUNUH! BRENGSEK! "

BUGH! 

BUGH! 

Ikhsan sama sekali tidak melawan saat marsye berkali-kali menghujamnya, memukulinya dengan sekuat tenaga. 

" Marsya! "

Marsye kalap, ia sama sekali tidak memperdulikan teriakan seseorang yang mencoba menghentikan serangannya. 

" Hentikan marsya! " 

" BRENGSEK! GUE BENCI LO IKHSAN! GUE BENCI! LO UDAH BUNUH SAHABAT GUE! "

Marsye terus saja berteriak memukul dan menendang ikhsan membuatnya terkapar tak berdaya. Sampai akhirnya, marsye kehilangan kesadarannya. 

- ( FlashbackOff  ) -

Marsye terdiam dengan airmata yang mengalir deras dari matanya. Bayangan-bayangan itu kembali menghantuinya. Ia sama sekali tidak bergeming dan tidak berniat untuk sekedar beranjak walaupun hujan sudah mulai turun membasahi tubuhnya. 

" Mars? "

Marsye mendongkak, menatap seorang gadis yang kini berdiri memayungi tubuhnya. 

" Intan.. "

Gumamnya tanpa suara.

" M-mars? Kamu teh gak apa-apa? "

Tanya nya khawatir. 

Marsye langsung berhambur kedalam pelukan gadis itu, membuatnya terperanjat dan payung yang dipegang gadis itu tergeletak begitu saja. 

" Gue kangen sama lo tan.. "

Lirihnya. 

" I-ini.. Ini Yaya "

Katanya pelan, ia merasa terenyuh melihat teman barunya terlihat begitu rapuh. Padahal marsye terlihat sangat kuat dan begitu di takuti. 

" Yaya? "

Marsye langsung melepaskan pelukannya. 

Yaya tersenyum saat Marsye menatapnya dengan teliti, kini tubuh mereka sudah sama-sama basah. 

" Astaga! Yaya! Ma-maafin gue. G-gue gak - "  Marsye gelagapan. 

" Gak apa-apa kok, yaya ngerti "

Sahutnya cepat. 

Marsye menggaruk kepalanya, kenapa ia selalu terlihat bodoh didepan gadis desa ini? " Lo mau pulang? "

" Iya, Mars ngapain disini? Hujan-hujanan hehe.. Pasti lagi mengenang masa kecil ya " Selidiknya. 

" Sok tau lo! " 

Yaya terkekeh geli, entah kenapa ia merasa begitu sangat dekat dengan Marsye walaupun pertemanan mereka baru dimulai 2 bulan yang lalu. Lebih tepatnya saat ia pertamakali masuk kedalam Universitas. 

***

Ilham berusaha tenang berhadapan dengan seorang dokter yang baru saja memeriksa keadaanya. 

Akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya semakin melemah dan drop sampai harus dibawa kerumah sakit dan ini untuk ketiga kalinya dalam satu bulan. 

" Bagaimana dokter? Apa saya baik-baik saja? " Tanya ilham penuh harap. 

Seorang dokter itu menatap ilham dengan prihatin. " Setelah saya melakukan tes akhir, Ternyata anda mengidap penyakit kanker darah " 

Ilham terdiam kaku. Apa ia tidak salah dengar? Kanker darah? Yang benar saja? " B-bagaimana bisa dokter? Ke-kenapa saya bisa mengidap penyakit itu? " 

Tanya ilham terbata-bata. 

" Gejala leukimia pada dasarnya sulit untuk dikenali kerena tidak memiliki ciri-ciri yang khas. Meski begitu, leukimia memiliki banyak gejala yang dapat

membantu mendeteksi penyakit ini ini. Contohnya seperti apa yang anda sebutkan beberapa hari yang lalu. " 

Ilham mengelengkan kepalanya, ia begitu shock mendengar penjelasan dokter itu. 

" D-dokter s-saya.. Bagai-bagaimana cara menyembuhkan penyakit ini dokter? T-tolong saya " airmata ilham mulai mengenang, hatinya diliputi perasaan takut. Takut penyakit itu akan merenggut nyawa-nya dan sungguh ia tak sanggup mengatakannya lebih lanjut lagi. 

" Pada dasarnya, pengobatan ini tergantung pada jenis leukimia yang dialami, usia anda, dan keadaan kesehatan anda. Agar bisa mendapatkan perawatan yang paling efektif, anda harus mendapatkan perawatan intensif dan terpusat dimana dokter yang menangani memang benar-benar memiliki pengalaman dan terlatih dalam merawat pasien leukemia. Pengobatan dini leukimia akan memperkecil risiko seseorang terkena kanker darah stadium lanjut. " jelas dokter itu panjang lebar dan ilham mendengarkannya dengan sangat baik. 

" Jadi maksud dokter saya harus dirawat? "

Tanya nya. 

" Tidak, datanglah kerumah sakit ini " Dokter menuliskan alamat didalam sebuah note dan memberikannya pada ilham. " Anda bisa berkonsultasi dengannya, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut " 

" K-kapan saya harus pergi kerumah sakit ini dokter? " 

" Secepatnya, saya sudah menuliskan alamat rumah dan alamat rumah sakitnya. Saya yakin sekali beliau mau membantu " 

" K-kalau begitu, terimakasih dokter " 

" Sama-sama "

Ilham berjalan lesu tanpa semangat, ia tak pernah menyangka kalau penyakit itu bersarang didalam tubuhnya. " Ya robb.. Apa ini adalah suatu ujian? " tanya nya dalam hati. 

Tepat setelah ilham keluar dari rumah sakit, ia tersentak saat suara ponsel mengagetkannya. Ia meraihnya kemudian tertegun menatap layar ponsel yang menampilkan nama seseorang yang sangat dicintainya, kekasih hatinya, pujaan hatinya. 

Hati ilham berdenyut sakit, apa gadis itu akan tetap mencintainya saat tahu ia menderita suatu penyakit parah?

Apa gadis itu akan tetap menjadikannya sang pujaan hati saat ia tidak bisa melakukan apapun lagi? 

Pertanyaan itu muncul begitu saja didalam benaknya, membuat ia lupa bagaimana caranya bernafas. 

Tapi yang lebih ia takutkan adalah suatu saat ia akan pergi. Pergi meninggalkan gadis itu untuk selamanya. Tanpa sadar ilham meremas ponsel itu dengan kuat, memejamkan matanya sejenak kemudian menaiki motornya tanpa mengangkat panggilan itu. Ia merasa butuh waktu untuk menenangkan diri dan fikirannya. 

" Kenapa lo? " 

Yaya tersentak saat Marsye berdiri dibelakangnya, hampir saja ia menjatuhkan ponselnya. 

" Gak apa-apa "

Sahutnya disertai senyuman simpul.

Marsye menautkan alisnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan gadis didepannya ini. " Satu hal yang perlu lo tau may, gue gak bisa dibohongin " tegasnya. 

Maya mendudukan diri dimeja Cafe yang kini menjadi tempat kerja nya. Ia mendesah pelan. " Si aa gak ngangkat telpon yaya " jawabnya, percuma saja ia mengelak dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Marsye mudah sekali menebaknya.

" Positif thingking aja, mungkin si Aa lo itu lagi sibuk " 

" Walaupun sibuk, biasanya si aa selalu ngangkat telpon yaya "

" Mungkin hari ini lebih sibuk " 

" Tapi- "

" Udah! Gak usah tapi-tapian. Mendingan sekarang kita beresin kerjaan. Terus pulang. Gue udah laper " 

Marsye sengaja memotong ucapan Yaya dengan cepat dan menariknya untuk berdiri. 

Yaya hanya bisa pasrah dan mengerjakan perkerjaannya tanpa semangat, ia merasa bimbang karena dua hari ini ilham sama sekali tidak ada kabar. Ia khawatir terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. 

Setelah setengah jam berkutat membersihkan Meja dan apapun itu, Marsye dan Yaya menghela nafas lega saat tidak ada lagi debu yang menempel pada meja cafe dan kursi-kursi yang berjajar rapih. 

" Akhirnya! " 

Teriak Marsye sumringah. " Ayo pulang! Gue laper banget " Ajaknya penuh semangat. 

" Ayo "

Sahut yaya. 

Mereka berganti baju setelah itu berpamitan untuk pulang kepada satpam yang bekerja disana. 

" Hari ini kita makan apa? "

Tanya Marsye saat mereka hendak memasuki bus.

" Terserah Mars aja "

Sahut yaya. Jika ia boleh jujur, ia sama sekali tidak berselera makan sejak dua hari yang lalu. 

" Gimana kalo kita makan diCafe langganan gue? Disana makanannya enak-enak may. Tenang aja, gue traktir " 

" Iya.. " 

Marsye meletet saat melihat ekspresi yaya yang terlihat lesu. " Lo kenapasih ya? Gue yakin. Bentar lagi si Aa lo itu bakalan nelpon. Percaya sama gue " 

Katanya, ia tahu penyebab kemurungan yaya. Apalagi kalau bukan karna tak ada kabar dari Kekasih yang selalu ia panggil Aa itu. " Ah! Gak asik lo " dengus Marsye. 

Yaya hanya terdiam dengan pikiran bercamuk, menatap jendela bus dengan tatapan kosongnya. 

" Hape lo bunyi woy! " Bisik Marsye membuat yaya tersentak. 

" Apa? "

Tanya nya bingung dengan mengerjapkan matanya. 

" Astaga May! Ha.pe. Hape lo Bu. Nyi! "

Jawab Marsye penuh penekanan. 

Seakan baru tersadar, yaya mengalihkan tatapannya pada tas. Ia buru-buru melihatnya. Seketika itu senyum lebarnya mengembang. 

" Tuh kan! Gue bilang juga apa! "

Marsye mengerling saat ikut menengok kelayar ponsel Yaya. 

Tanpa memperdulikan celotehan Marsye, yaya mengangkatnya dengan senang hati 

" Assalamu'alaikum aa " 

Sapa yaya lembut. 

Ilham tersenyum lirih mendengar suara gadis yang begitu sangat ia rindukan itu. [ Waalaikumsalam neng ] Sahutnya. [ Maaf ya, aa baru sempet nelpon kamu ] Ucapnya pelan. 

" Iya gak apa-apa a, Yaya ngerti. Tapi.. Aa teh baik-baik aja kan? " 

Ilham tertegun, kenapa yaya bertanya seperti itu? Seolah tau kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. 

" A? "

Yaya mengerutkan keningnya saat Ilham tidak menyahut. 

[ I-ya neng, Aa baik-baik aja kok ] 

Ilham memejamkan matanya sejenak. " Maafin aa neng " lirihnya dalam hati. 

" Aa gak bohongin yaya kan? Yaya khawatir, soalnya aa gak ada kabarnya dua hari ini. " 

[ Aa baik-baik aja, Gimana kuliah kamu? ]

Ilham sengaja mengalihkan pembicaraan. 

" Alhamdulillah lancar a, Aa jangan terlalu capek ya. Nanti aa sakit, yaya gak mau aa sakit " 

Ilham mendesah pelan, jika ia mengatakan perihal penyakitnya itu. Ia yakin sekali yaya malah akan mengkhawatirnya terus-menerus. [ Iya sayang, Harusnya aa yang bilang gitu sama kamu. Soalnya kamu kan sekarang kerja. Kamu harus jaga kesehatan ya ] .

Yaya tersenyum malu saat mendengar ilham memanggilnya sayang. Ia sangat menyukai panggilan itu. " Iya aa, yaya pasti jaga kesehatan. " Ia menejang ujung baju nya dengan gugup. " A.. " katanya ragu. 

[ Apa sayang? ]

Ilham tersenyum simpul, ia tahu sekarang yaya pasti tersenyum malu. 

" Yaya kangen sama aa "

Setelah mengatakannya yaya meruntuk dalam hati, bisa-bisanya ia berkata seperti itu. 

[ Aa juga kangen sama kamu neng, Aa rindu. ] Sahut ilham, perasaannya menghangat. 

" Yaya janji akan lulus cepet-cepet supaya kita bisa cepet nikah " 

Senyuman ilham perlahan luntur, entah apa yang harus ia katakan. Suaranya tercekat begitu saja mendengar perkataan yaya yang terdengar antusias. 

Yaya kembali mengerutkan keningnya saat tidak ada sahutan dari ilham. " Aa.. " panggilnya ragu setelah memeriksa sambungan telpon itu. 

" Halo? A? Kok aa diem? "

Tanya, entah kenapa ia merasa kecewa saat ilham tidak menanggapi perkataanya.

[ A-ah. Iya.. Iya neng. Neng juga harus inget selalu pesen aa ya. Jangan pernah menyerah dan jangan mengeluh. ]  Ilham mendongkakan kepalanya keatas. " Aa akan selalu nunggu kamu pulang " lirihnya. Bagaimanapun juga ia tidak boleh membuat gadisnya kecewa. 

" Iya a, Yaya akan selalu inget kata-kata a. Yaya gak akan lupa karena aa itu matahari yaya. yang selalu bersinar memberikan yaya semangat. Aa adalah pahlawan yaya. Yaya teh sayang pisan sama aa " 

Ucapnya panjang lebar. 

Ilham terenyuh. Ia hanya bisa terdiam mendengar untaian kata yang diucapkan yaya. Matahari? Jika ia matahari yang bersinar, mungkin sekarang cahayanya perlahan meredup. Ia tidak akan selamanya bisa menyinari gadisnya. Tanpa sadar airmatanya mengalir begitu saja. [ Aa juga sayang sama kamu ] sahutnya pelan. 

" Ya udah kalo gitu, nanti yaya telpon balik ya a. Yaya mau makan dulu " 

Kata yaya setelah turun dari bus, mengikuti Marsye. 

[ Iya neng.. jangan lupa baca do'a ya ]

" Iya aa.. Assalamu'alaikum "

Yaya tersenyum manis, ia merasa senang karena ilham selalu mengingatkannya tentang hal kecil yang terkadang ia lupa. 

[ Waalaikumsalam ]

Sahut ilham setelah itu mendongkak, menatap matahari yang mulai terbenam. 

" Maafin aa neng.. "

Lirihnya parau. 

" Puas lo? "  Yaya tersenyum lebar saat marsye mendelik kearahnya. " Iya.. Puas atuh hehe " Sahutnya disertai kekehan. Ia kembali memasukan ponselnya pada tas. 

" Jadi sekarang.. Lo udah selera makan kan? " 

" Iya udah.. Ayo kita makan. Yaya udah laper " 

" Gilaa! Segitu berpengaruhnya ya cinta? "

Tanya Marsye heran. Karena setelah mendapatkan panggilan dari kekasihnya. Yaya kembali ceria. 

" Iya atuh, kan terkadang Cinta memberikan energi "

Sahutnya penuh semangat. 

" Energi? Hahaha Bulshit! "

" Serius.. " 

" Gue gak peduli! " 

Marsye langsung berjengit membuat yaya memanyunkan bibirnya sebal. 

" Tunggu atuh ih! " 

Yaya langsung mengapit tangan Marsye. karena jujur saja, Ia merasa takut. 

" Mau makan apa? "

Tanya Marsye setelah duduk dipojok Cafe. 

" Samain aja sama Mars "

Sahutnya, Yaya mengedarkan pandangan keseluruh penjuru Cafe.

Seketika itu matanya melotot kemudian mengerjap pelan. Ia seperti mengenali seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita yang membelakanginya. 

" Liatin apa? "

Marsye mengikuti arah pandang yaya. Kemudian tersenyum simpul " Namanya Raffi " katanya membuat Yaya langsung memejamkan matanya. 

" Jangan keras-keras. "

Kata yaya kemudian menutup wajahnya menggunakan buku menu. 

" Kenapasih lo? " 

Tanya nya heran. 

Yaya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban membuat Marsye mengerling. 

" Sini Menu nya " Marsye merebut buku menu itu dari tangan yaya. 

" Mars! " 

Yaya terkesiap kaget kemudian membungkam mulutnya sendiri. 

Ia melirik kearah Raffi, Seketika nafasnya tercekat. Raffi menatapnya! 

Mata raffi memicing tajam, seperti mengenali siapa gadis yang duduk tak jauh darinya.

Ia memutar-mutar ingatannya sembari memperhatikan gelagat aneh gadis itu. 

" Raff? " 

" Y-ya? "

Tubuh raffi langsung tegap kembali menatap gadis yang berada dihadapannya. 

" Lo liatin si Marsye? "

Tanya gadis itu. 

" Marsye? Bukan.. Buk- "

Mata raffi melotot. Sial! Ia keceplosan. 

" Cewek itu? "

" Udah lah bell.. Gue kayak pernah liat aja "

Sahut Raffi merasa jengah, terkadang gadis dihadapannya itu selalu bersikap Overprotectiv padanya. 

" Tapi lo gak dengerin gue! " 

" Jangan mulai bell, mendingan sekarang kita makan. Terus abis itu langsung cabut. Oke? Gue masih banyak kerjaan " 

Gadis bernama bella itu mengerling, ia menatap kesal pada lelaki yang duduk dihadapannya. Ia sangat tidak suka jika raffi menatap oranglain dan mengabaikannya. 

Marsye yang mendengar itu hanya menyibikan bibirnya sebal. " Najis " dengusnya. 

" Kenapa? "

Tanya yaya penasaran karena Marsye terus saja menggerutu kemudian mendesah pelan saat Marsye tidak menanggapi pertanyaannya. 

" Mars.. " 

Yaya mendongkak menatap marsye setelah menyantap makanannya.

" Hmm.. " 

Sahutnya tetap fokus pada makanan. 

" Yaya mau ketoilet dulu ya. Mars jangan pergi kemana-kemana " 

" Takut banget si lo ditinggal? "

Marsye terkekeh geli. 

" Yaya kan baru pertamakali kesini " 

" Yaa yaa.. Buruan sana, jangan lama "

Yaya langsung beranjak kemudian melangkah lebar menuju toilet. 

Karena terburu-buru, yaya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang yang hendak keluar dari toilet. Membuatnya terhuyung dan memekik saat ia merasakan seseorang menyangga tubuhnya. 

Seperti Dejavu, kejadian ini pernah ia alami saat itu. Mata lelaki itu menatap tajam gadis yang kini berada dalam pelukannya. Ingatannya seakan terkumpul penuh. 

" Maya? "

Gumamnya tanpa sadar. 

Yaya mengerjap kemudian menegakan tubuhnya. Menatap raffi dengan Was-was.

" Kenapa lo bisa ada disini? "

Tanya nya bingung. 

" Le-pasin! "

Yaya berusaha melepaskan cekalan raffi pada tangannya. 

" Jawab gue! "

Pintanya menuntut. 

" Raffi! "

Mereka berdua tersentak, seorang gadis yang bersama raffi itu menghampiri yaya dengan tatapan tajam dan dingin. 

" Beraninya lo gangguin pacar gue! "

PLAK!

Yaya tersungkur saat mendapatkan tamparan tiba-tiba dari seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia memejamkan matanya merasakan perih yang menjalar dipipi dan sudut bibirnya. 

" Lo gila! "

Teriak raffi pada gadis itu.

Mendengar suara ribut-ribut. Orang-orang langsung berkerumun. 

Raffi berusaha membatu yaya berdiri, tapi gadis itu menepis tangannya. 

" May! " 

Marsye tersentak membelah kerumunan.

" Apa yang lo lakuin sama maya! " 

Teriaknya dengan tatapan tajam. 

PLAK! 

Marsye menampar Bella dengan keras membuatnya terhuyung kedalam pelukan raffi. 

" Kurang ajar! "

Bella hendak membalas perbuatan Marsye tapi raffi menahan tangannya.

" Cukup bell! Lo apa-apaan sih hah! "

Gertaknya. 

Sedangkan yaya berdiri dengan kaku melihat pertengkaran itu, Ia begitu kaget sampai tubuhnya terasa lemas. .

" Gue peringatin sama lo! Sekali lagi lo berani nyentuh maya. Gue patahin tangan lo! Sialan! " 

Marsye langsung membawa yaya yang terlihat begitu ketakutan.

Newest Older

Related Posts

Post a Comment